Being human Languages

Tujuan Belajar Mandarin

Buat temen-temen yang gatau, gue awalnya belajar Mandarin cuma karena bosen aja punya banyak waktu luang tapi ga ada yang bisa dilakuin. Waktu itu tahun 2018 di mana gue kerja di pedalaman hutan Kalimantan dan saat itu ga ada sinyal hp, internet pakai wifi terbatas yang cuma bisa buat voice call whatsapp, skype, sama browsing, not even bisa buka IG, youtube, dll. Jam kerja gue waktu itu selesai jam 5 sore. Nah dari jam 5 sore ke atas itu kosong banget, karena cuma nunggu tidur, bisa nonton sih tapi nonton terus bosen juga. Baca buku terus bosen juga. Olahraga paling cuma sejam lah. Sisanya masih banyak waktu. Akhirnya waktu itu mutusin buat ambil kursus online, sengaja cari yang bisa setiap hari buat ngisi waktu luang plus biar cepet bisa. 

At that time, gue pikir tujuannya saat itu bukan karena mau ambil sertifikasi HSK atau kerja, tapi pure karena gue bosen dan pengen bisa aja. Tapi setelah dipikir” lagi, buat gue pribadi, belajar Mandarin seperti semacam kesempetan buat buktiin kalau gue bisa stick to one thing and master it. Kenapa gue punya pikiran kayak gitu? Karena dari gue kecil, gue punya kebiasaan yaitu suka coba banyak hal. You name it, les nyanyi, gambar, matematika, piano, ballet, tapi nggak ada yang pas dan bikin gue bertahan lama. Selama bertahun-tahun, gue denger ujaran kayak “Ya makanya, apa-apa tuh harus tuntas, harus fokus. Kamu sih ga fokus, makanya ga bisa-bisa.” Something like that lah. It hurts me a lot, karena sebagai anak kecil, ya gue pengen explore, that was my time to try things. Mungkin ini terdengar kayak pembelaan, tapi gue ngerasa waktu kecil gue kurang dikasih ruang untuk coba ini-itu. Seperti ada ekspektasi untuk bisa mahir dalam satu bidang once ketika gue mulai kursus itu. I mean it’s not wrong to expect your child to be a master of something, to have a skill. Tapi yang perlu diingat, anak juga perlu ruang untuk coba hal, untuk eksperimen, untuk explore. Beberapa anak bisa langsung tahu kalau suatu hal bukan untuk dia dalam waktu singkat, beberapa anak lainnya butuh waktu lama. Kalau ga dicoba lewat les-lesan, dikasih cukup waktu untuk tahu apakah anaknya suka atau engga sama hal tsb, ya gimana taunya?

It took me years to heal from those scars, because those voices led me to think that I was useless, I don’t have any skill, I cannot do anything, padahal kenyataannya gue bisa bilang kalau gue ya normal-normal aja sebagai manusia, sebagai orang. Gue belajar cepet, gue cukup gesit kalau ngelakuin sesuatu, dan gue suka coba hal baru. 

Di tahun 2019 gue mulai belajar Mandarin, itu kayak langkah perubahan buat gue, karena menurut gue Mandarin cukup challenging buat dipelajarin, cukup lah untuk kasih gue feeling of satisfaction tiap kali gue bisa ngomong satu kalimat dengan bener atau baca satu kalimat tanpa salah nada, tapi ga sesusah itu juga yang sampe bikin gue ogah buat lanjut belajar. Dan gue bisa bilang, sesuatu yang dipelajari dengan serius tapi caranya santai dan nggak pressure, justru itu yang paling manjur, paling efektif, buat dipelajari. Kalau dikejar target, malah jadi overwhelmed sama targetnya sendiri. Again, tiap orang beda-beda ya cara pikir dan belajarnya. Mungkin ada yang belajar lebih baik dengan pressure. Tapi buat orang-orang yang gabisa belajar dengan pressure, please learn on how to enjoy the process of learning. Tujuan belajar ya jelas lah buat bisa, buat mahir, tapi kalau lo ga nikmatin prosesnya, ga lakuin secara rutin setiap hari, ya akan makin lama buat lo jadi ‘bisa’, dan makin lama nyampe ke tujuan, makin lama ‘bisanya’, makin capek dan frustasi juga pas belajarnya, yang akhirnya malah bisa jadi bikin berhenti belajar sama sekali.

Jadi sebelum mulai belajar, coba dicari dulu alasan kuatnya mau belajar tuh karena apa. And I hope it is something personal, sesuatu yang datangnya dari diri lo sendiri, misal karena lo pengen bisa aja, karena pengen ada challenge, atau karena pengen belajar hal baru, atau karena keren aja kalau bisa punya suatu skill; dan bukan yang datangnya dari luar, misal karena pengen dapet kerja gaji gede, pengen sekolah di luar, dll. Ya maksudnya gapapa juga punya external motivation and goal, tapi ada yang lebih penting dari itu, yaitu motivasi & goal yang datangnya dari dalam diri.

I hope you can find it, and if you already found it, keep going and enjoy the process ya!

Photo by Lucas Myers on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *