Uncategorized

Segalanya di 2018

2018 menjadi tahun yang sangat berkesan bagi diri gue. Di hari pertama tahun 2019 ini, gue mau berbagi apa yang gue rasakan, alami, dan pelajari di sepanjang tahun 2018. Gue berharap kisah hidup gue dalam satu tahun yang gue ringkas ini dapat menjadi semangat bagi teman-teman yang saat ini sedang merasa sedih.


Buat teman-teman yang belum tahu, gue kelahiran tahun 2000 yang lulus Sekolah Menengah Kejuruan (setara dengan Sekolah Menengah Atas) di tahun 2018. Gue menginjak usia “dewasa” di tahun 2017, di mana gue berusia 17 tahun saat itu. Namun, di balik segala ketakutan gue dengan menginjak usia yang kata orang usia peralihan dari remaja ke dewasa muda, gue tidak benar-benar merasakan menjadi orang dewasa saat itu. Hidup gue sepanjang tahun 2017 benar-benar terasa normal seperti biasanya tanpa ada perbedaan dari seorang remaja menjadi seorang dewasa muda. Bertemu dengan orang-orang baru yang sedikit membuka wawasan gue tentang apa itu keluarga, dan berbagai pandangan baru tentang keluarga di luar sana selain keluarga gue sendiri, tidak berdampak besar. Beberapa pencapaian seperti memenuhi kebutuhan pribadi tanpa merepotkan kedua orang tua pun tidak membuat gue bangga.

Memasuki tahun 2018, gue menjalaninya tanpa ekspektasi apapun. Yang gue tahu pada saat itu, gue hanya perlu fokus pada berbagai macam tes menjelang Ujian Nasional, Ujian Nasional itu sendiri, dan juga penentuan masa depan gue, apakah gue akan bekerja atau melanjutkan pendidikan gue ke jenjang selanjutnya. Di saat waktu-waktu itu tiba, gue tidak berharap banyak. Walau bukan berharap pada manusia dan hanya berusaha untuk berharap kepada Tuhan saja, gue tetap tidak mau berharap banyak. Takut kecewa kalau-kalau tidak sesuai keinginan.

Berjalan dua bulan dari awal tahun 2018, gue membuat sebuah keputusan besar dalam hidup gue. Gue memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya untuk sementara waktu dan memilih untuk bekerja di bidang yang sama sekali tidak pernah gue pikirkan, bayangkan, dan pelajari sebelumnya. Gambling, tapi gue berserah penuh pada Tuhan. Gue hanya ingin mencoba dan belajar hal baru dengan kesempatan yang sudah ada di depan mata dan belum tentu datang 2x.

Pada saat Ujian Nasional pun, gue merasa yakin kalau gue membuat sebuah kesalahan. Padahal, gue sangat berharap untuk bisa mendapatkan nilai sempurna di mata pelajaran yang sangat gue sukai tersebut. Entah karena ingatan gue yang salah, atau memang mujizat Tuhan terjadi dalam hidup gue, nyatanya gue memang benar-benar mendapatkan nilai sempurna yang gue idam-idamkan tersebut. Tentunya bukan hanya karena berdoa tanpa berusaha. Nomor satu, tetap gue berserah pada Tuhan, tapi nomor dua, gue tetap berusaha semaksimal mungkin. Belajar setiap hari, bahkan sampai larut malam demi mengerjakan dan mengulang paket-paket soal yang sudah pernah gue kerjakan sebelumnya, adalah usaha besar yang sampai kapanpun tidak akan pernah gue anggap cukup. Hasil yang gue dapatkan murni karena penyertaan Tuhan.

Tak lama berselang setelah Ujian Nasional gue berakhir di awal bulan April, gue diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mengalami banyak hal baru yang membuka wawasan dan berbagai sudut pandang baru dalam hidup ini. Gue diizinkan untuk bertemu berbagai macam orang dan karakter di dunia kerja yang ternyata memang ada di dunia nyata, bukan hanya dalam novel-novel picisan yang dulu sering gue baca pada saat masih SMP.

Lebih spesifiknya lagi, gue diizinkan untuk mendapatkan pekerjaan yang memang sesuai dengan apa yang dulu sering gue doakan. Jauh dari Jakarta, sering berpergian dan bukan di belakang meja alias hanya di kantor seharian, menyaksikan sendiri seperti apa hidup penuh keprihatinan yang selalu dikasihani oleh orang-orang kota yang nyatanya dihidupi dengan penuh kebahagiaan oleh mereka yang menjalaninya.

Di tahun 2018, gue belajar untuk melihat penyertaan Tuhan dan berserah sepenuhnya, bukan hanya dalam ucapan saja tetapi juga dalam tindakan dan kehidupan nyata. Di tahun 2018 juga, gue menyadari bahwa semua masalah yang gue lalui di tahun-tahun sebelumnya, yang selama ini sudah membuat gue jungkir balik, jatuh bangun, putus asa, patah semangat, tidak ingin melanjutkan hidup, hanya ingin menjauh dari orang banyak dan kehidupan sosial, menjadi pribadi yang keras dan realistis, terlalu dewasa untuk orang-orang seusia gue, dan membuat gue mempertanyakan keberadaan Tuhan dan apa rencanaNya bagi gue dengan segala masalah ini, ternyata memang benar-benar gue lihat hasilnya.

Mungkin ini bukan akhir dari rencana Tuhan atas terjadinya semua masalah gue dulu yang seringkali tidak gue akui keberadaannya, bahkan seringkali gue lari juga dari masalah-masalah itu, tapi gue dengan jelas melihat bahwa semua kesulitan yang gue alami sebelumnya ternyata dapat berguna untuk orang lain. Tahun 2018 benar-benar memotivasi gue untuk lebih aktif menolong orang lain dengan lebih nyata lagi, salah satunya lewat hal-hal yang gue gunakan sehari-hari seperti Instagram, media komunikasi lainnya, dan juga melalui blog ini sendiri. Walau belum rutin, gue benar-benar berharap gue bisa membantu orang-orang di luar sana untuk menemukan kedamaian dan kebahagiaan dalam diri mereka sendiri dan bukan mencarinya di luar, entah dalam bentuk apapun itu.

Tahun 2018 mengajarkan gue untuk tidak menyimpulkan apapun yang dilihat oleh mata secara sepihak, karena belum tentu apa yang dilihat sesuai dengan apa yang dialami. Meski seseorang melakukan tindakan yang kita labelkan sebagai hal ‘buruk’, belum tentu ia orang jahat. Begitupun sebaliknya. Semua orang memiliki alasannya masing-masing dalam melakukan segala sesuatu. Tidak perlu ketahui alasannya jika tidak ingin terlibat lebih jauh. Cari tahu alasannya untuk mengerti situasi dan kondisinya. Intinya, jangan menghakimi apapun yang dilakukannya. Gue tidak berhak, kalian tidak berhak, dan mereka pun tidak berhak. Kita sama-sama berjuang dalam hidup ini. Lebih baik diam jika tidak bisa berkata-kata yang baik.

Di tahun 2018 juga gue belajar untuk lebih menghargai apa yang gue punya saat ini. Menghargai apapun yang pernah gue alami dalam hidup. Karena, di luar sana ada banyak orang yang di atas ataupun di bawah posisi kita saat ini. Belum pernah merasakan apa yang pernah kita rasakan, tidak punya apa yang kita punya dan gunakan setiap hari. Seringkali merasakan (sampai bosan) apa yang kita hanya pernah rasakan sekali atau beberapa kali, punya terlalu banyak apa yang kita punya, kita tidak punya, atau kita sangat inginkan. Ada hal-hal yang kita anggap biasa, namun ternyata luar biasa bagi orang lain. Ada juga hal-hal yang kita anggap luar biasa, namun ternyata sangat biasa saja bagi orang lain.

Rumput tetangga akan selalu lebih hijau, dimanapun kita, dan apapun kondisi kita saat itu. Terus-terusan melihat jika hanya ingin membandingkan akan terus berujung dengan tidak ada cukupnya. Hidup ini bukan tentang siapa yang lebih beruntung dan siapa yang tidak. Hidup ini tentang kita yang memiliki apa yang memang sudah menjadi bagian kita. Hidup ini tentang kita yang memiliki apa yang sesuai kemampuan kita. Percayalah, seberat apapun masalah kita saat ini, kita, lo, gue, kalian, pasti akan bisa melewatinya. Masalah yang ada di hidup kita adalah masalah yang pasti tidak melebihi kemampuan dan kekuatan kita. Akan ada waktunya nanti di mana kita akan melihat ke belakang dan tersenyum, menyadari bahwa kita berhasil melewati apa yang kita kira tidak mampu kita lewati. Bahkan, akan tersenyum lebih lebar lagi ketika apa yang pernah menjadi rintangan bagi kita ternyata dapat menjadi bantuan dan inspirasi bagi orang lain.

Tahun 2018 gue belajar tentang kehilangan. Meski bukan seseorang yang memiliki hubungan khusus atau spesial, namun kehilangannya menyisakan luka dan kesedihan yang tak akan gue lupakan. Siapapun kita, di mana pun kita, apapun kita, kita pasti merasakan sesuatu yang namanya kehilangan. Saling melupakan, hanya dapat melihat dari jauh, atau bahkan tidak dapat melihatnya sama sekali, yang namanya kehilangan pasti menyedihkan. Namun, kita harus bergerak maju. Hidup ini terus berjalan, dan waktu tidak akan berhenti untuk menunggu kita bangkit. Berikan waktu pada diri kita sendiri untuk bersedih, untuk menangis, untuk marah… pada diri sendiri, pada hidup ini, ataupun pada Tuhan. Setelah waktu itu telah mencapai batas yang kita tetapkan sendiri, konsisten! Penuhi janji pada diri sendiri bahwa kita harus bangkit. Tidak perlu menunggu lukanya sembuh karena pasti akan memakan waktu yang lama. Lukanya akan sembuh dengan sendirinya, yang penting kita bangkit lebih dulu. Yang meninggalkan pun pasti tidak ingin melihat kita terus menerus ada di titik terendah.

Tahun 2018 memberikan banyak pelajaran bagi gue, baik secara jasmani, mental, maupun secara rohani. Gue berterima kasih kepada semua orang yang terlibat secara aktif dalam kehidupan dan keseharian gue di sepanjang tahun 2018. Tanpa kalian, dan tentunya tanpa Tuhan, gue nggak akan ada di sini, hari ini.

Untuk siapapun yang pernah terlibat dalam suatu hal yang tidak mengenakan dengan gue, gue mohon maaf yang sebesar-besarnya. Gue berharap di tahun 2019, kita bisa memulai hubungan ini dengan lebih baik dan lebih harmonis.

Untuk kalian yang tahun 2018-nya dipenuhi berbagai hal yang tidak baik dan masih bingung atau takut dengan tahun 2019, jangan khawatir. Kalian nggak sendiri. Gue juga manusia, dan gue juga merasa takut. Namun, hidup akan selalu penuh kejutan. Jadi, beri diri sendiri sedikit kelonggaran dan jangan terlalu tegang. Panik atau tidak, tegang atau tidak, hidup akan terus berjalan, dan apa yang seharusnya terjadi pasti akan tetap terjadi. Persiapkan diri untuk segala kemungkinan namun tetap cintai diri sendiri terlebih dahulu. Tanpa mencintai diri sendiri, kita tidak akan bisa menyebarkan cinta kepada sesama, dan dunia tanpa cinta adalah hampa.

Jangan lupa bahagia di sepanjang tahun 2019! Sedih boleh, tapi jangan berlarut.

Salam sayang,signature

Leave a Reply