Self Uncategorized Wellness

SANTAI

Hampa. Kosong. Letih tak berkesudahan. Sedih. Murung. Tapi entah mengapa. Tak beralasan, hanya merasakan. Pernah seperti ini?

Saat ini, kita hidup di zaman penuh teknologi. Gue lahir, tumbuh besar, dan tinggal di Jakarta. Baru beberapa bulan belakangan saja, gue memilih untuk merantau ke kota lain –atau mungkin desa tepatnya– agar bisa mencari tahu sendiri seperti apa rasanya hidup dengan teknologi terbatas. Buat gue yang sudah lebih dari 15 tahun tinggal di Jakarta, tentu gue sudah hafal betul dengan rutinitas sebagian besar orang-orang yang gue kenal, yang juga tinggal di Jakarta. Yah, mungkin rutinitas mereka kurang lebih sama dengan rutinitas sebagian besar warga Jakarta. Yang membedakan mungkin hanya tempatnya, suasananya, jenis kegiatannya, dan kalangannya. Urutan rutinitasnya? 11-12 saja, palingan.

Untuk gue, kalian yang sedang baca tulisan ini, dan orang-orang di luar sana yang mungkin merasakan apa yang gue tuliskan di paragraf pertama, DAN… Kebetulan tinggal di kota besar yang sibuk, atau kota bisnis, atau kota metropolitan selain Jakarta (ada nggak?), mungkin yang kalian rasakan itu namanya fast-paced routines stressed. Apa ya bahasa Indonesia-nya? Stres dengan rutinitas yang bergerak cepat, mungkin? Intinya, gue, lo, dan ribuan orang lainnya mungkin saja merasa sangat lelah mengikuti semua pergerakan di lingkungan sekitar yang bergerak sangat cepat, secepat kilat, sampai-sampai kita mulai kehilangan jati diri kita sendiri dan bukan melakukan apa yang benar-benar ingin kita lakukan. Kita hanya melakukan apa yang lazim, karena sebagian besar orang melakukannya. Semua rutinitas, kegiatan, atau pergerakan apapun dalam keseharian kita bergerak begitu cepatnya hingga kita tidak pernah meluangkan waktu untuk berpikir, apakah ini benar-benar yang kita inginkan?

Hanya karena sebagian besar orang bekerja di kantor untuk mencari uang, kita pun mulai mengikuti jejak mereka dengan pola pikir hanya dengan bekerja saja kita bisa mendapatkan uang. Padahal, uang bisa didapatkan dari mana saja  –secara halal tentunya, tidak harus bekerja di kantor. Mungkin, lo adalah tipe orang yang lebih senang bekerja di lapangan. Ada banyak hal yang bisa lo jadikan ‘pekerjaan’. Fotografer, mekanik, blogger, dan masih banyak lagi. Nggak perlu gue sebutin satu-satu, kan?

Nggak perlu takut untuk jadi beda kalau memang itu diri lo sendiri. Nggak perlu takut untuk tunjukkin apa yang lo mau kalau memang itu nggak merugikan siapapun secara fisik, finansial, dan mental. Toh, lo nggak minta makan sama mereka, kan?

Oke, gue mulai melenceng dari topik. Walau berhubungan, bukan itu yang sebenarnya pengen gue bahas.

Sekarang, coba lo stop baca di paragraf ini. Ambil nafas dalam, hembuskan, terus mikir. Bener nggak sih, yang gue omongin barusan? Kalau lo ngerasain hal-hal yang gue sebutin di awal karena lo ngerasa bosen sama rutinitas yang bukan ‘lo’? Atau… Karena lingkungan lo bergerak dengan sangat cepat dan lo hanya bergerak mengikuti tanpa benar-benar tahu apa yang lo sendiri inginkan?

Kalau bukan itu alasan lo ngerasain hal-hal itu, stop baca di sini. Start asking yourself, and figuring it out yourself. If you feel that you can not help yourself, start seeking for help from professional. That would be a much better choice than wasting time thinking what is wrong with yourself.

Kalau ternyata yang gue tulisin tadi benar… Pertanyaan gue adalah, apa sih yang dikejar?

Coba tarik nafas sebentar. Rileks sebentar. Mikir sebentar. Jujur dulu sama diri sendiri sebentar. Nggak butuh seharian kok. Sebentar saja udah cukup banget. 5 menit, 10 menit, 15 menit…

Dalam sehari, gue bisa pastiin lo nggak ada waktu untuk ‘diri lo sendiri’. Waktu yang gue maksud ini bukan waktu yang dipakai buat nyalon, main game, atau tidur ya. Waktu yang gue maksudkan adalah waktu di mana lo bisa benar-benar mengistirahatkan jiwa lo dari segala kesibukan yang ada, waktu di mana lo bisa jujur dengan diri lo sendiri mengenai orang-orang di sekeliling lo yang ternyata nggak lo sukain, pekerjaan yang ternyata nggak bisa lo sukain sebagaimanapun lo mencoba, dan waktu di mana lo bisa menjadi diri lo yang sejujur-jujurnya.

Kalau memang lelah, ngeluh saja. Kalau memang sedih, nangis saja. Kalau memang marah, teriak saja, bentak saja, lempar saja. Lo manusia kok. Gue juga. Mereka juga. Jadi, ekspesikan semua yang kita rasain, asal kita tidak melukai sesama manusia.

Gue tahu, ada beberapa hal yang memang sudah harus kita jalankan seperti itu adanya. Kita tidak punya pilihan apapun. Satu kata yang bisa kita gunakan hanyalah bertahan, walau mungkin kata bertahan itu memberikan beban yang sangat berat di pundak kita. Tapi ingat, kita berhak bahagia. Semua manusia, termasuk lo, berhak bahagia. Mungkin, bukan bahagia dari pekerjaan yang kita impikan. Mungkin, bukan bahagia dari keluarga lahiriah yang memang keluarga kita. Mungkin, bukan bahagia dari apa yang lo inginkan atau idam-idamkan. Tapi, bahagia itu bisa dari mana saja, nggak harus dari hal tersebut. Satu hal yang pasti, bahagia berasal dari diri lo sendiri.

Cara untuk mendapatkan bahagia dari dalam itu sebenarnya mudah, yaitu hanya dengan membiarkan waktu untuk diri kita sendiri, alias santai. Biarkan diri lo menemukan jati dirinya yang sudah lama terhilang dengan bersantai sejenak. Saat sudah menemukan jalannya, berikan keseimbangan. Jangan sampai jati diri lo menguasai diri lo secara berlebihan. Apapun yang berlebihan tidak dapat menghasilkan sesuatu yang baik.

Sampai paragraf di atas, mungkin ada beberapa dari lo yang nggak mengerti maksudnya memberikan waktu untuk menemukan jati diri lo sendiri. Maka dari itu, gue kasih contoh. Ini tentang diri gue sendiri.

Cara gue mengembalikan diri gue, kewarasan gue secara akal sehat dan nurani, adalah dengan memperbanyak baca buku tentang self-help, karena pada saat itu gue nggak merasa ada yang bisa tolong gue selain diri gue sendiri. Iya, gue bahkan nggak bisa menemui professional helper karena keluarga gue keterbatasan finansial. Tips pertama untuk menemukan jati diri lo adalah mencari pertolongan. Siapa, atau apa yang bisa membantu lo untuk kembali waras terlebih dahulu? Kata siapa di sini bisa berupa orang tua, sahabat, keluarga, ataupun ya professional helper apabila lo merasa tidak ada yang bisa membantu lo dan kebetulan, lo juga memiliki biaya yang memadai untuk itu. Waktu yang gue manfaatkan untuk membaca buku self-help bahkan masih gue lakukan sampai hari ini, meski dengan arah yang mulai berbeda dari awalnya. Kalau di awal gue membaca buku self-help untuk menemukan kedamaian dan kebahagiaan dalam diri gue, sekarang gue membaca buku self-help untuk meningkatkan dan memperbaiki diri gue sendiri agar menjadi lebih baik lagi.

Dari pertama kali gue mulai membaca buku self-help sampai pada titik di mana gue merasa cukup lebih baik dan lebih bisa mensyukuri hidup, gue melanjutkan tahap pencarian jati diri gue ke tingkat yang lebih sulit, yaitu meluangkan waktu untuk bersantai menonton film. Aneh, ya? Iya, sekarang juga gue merasa aneh kalau melihat diri gue yang dulu. Gue benar-benar sebegitu stresnya dengan pergerakan di lingkungan gue yang sangat cepat sampai-sampai gue sangat takut tertinggal dengan yang lain, yang bergerak begitu cepat tanpa henti, dan tidak meluangkan waktu untuk gue merelaksasikan diri. Waktu yang gue pakai untuk menonton film tentunya gue gunakan untuk menonton film yang gue sukai. Jadi, tips keduanya adalah, melakukan hal yang lo sukai untuk membantu diri lo sendiri lebih rileks dan nyaman. Berhubung gue suka dengan genre romance dan drama, maka gue mencari film-film yang memiliki genre tersebut. Selain menonton, gue juga melakukan hal lain yang selama ini selalu menghantui gue terus-menerus, yaitu makan. Iya, makan. Ada masanya ketika gue sangat takut untuk makan makanan yang sangat gue sukai, dengan alasan gue takut gendut. Ya memang, gue sampai detik ini pun tidak ada intensi atau tujuan ingin menjadi gendut dan obesitas, tetapi ketika gue sadar, gue memberikan waktu dan kesempatan untuk diri gue sendiri menikmati apa yang diri gue inginkan. Ada waktunya untuk menjaga makan, yaitu saat kita di rumah dan masih bisa memilih makanan yang harus dikonsumsi untuk menjaga kesehatan badan, namun ada waktunya juga untuk memberi kesempatan bagi diri lo agar bisa mengkonsumsi apapun yang lo inginkan sampai dalam tahap puas.

Setelah gue berhasil untuk sedikit lebih santai ketika meluangkan waktu untuk melakukan hal-hal remeh yang sebenarnya tidak terlalu berguna dalam hidup ini, gue melanjutkan pencarian jati diri gue ke hal yang paling gue sering sebut, agungkan, percaya, dan pasrah, namun di saat yang bersamaan juga, gue masih belum tahu seperti apa gue harus meluangkan waktu untuk hal ini. Hal terakhir yang akan gue bahas adalah mengenai pencarian jati diri gue di dalam Tuhan. Seringkali gue mendengar orang banyak berkata ketika diri lo nggak bahagia, itu artinya lo nggak bersyukur. Well, gue setuju dan tidak setuju di saat yang bersamaan. Memang, rasa tidak bersyukur membuat diri lo tidak bahagia dan selalu menginginkan yang lebih, tapi rasa tidak bahagia juga tidak hanya karena tidak bersyukur. Ada banyak faktor selain tidak bersyukur.

Kemudian, ada lagi orang-orang yang berkata bahwa ketika lo tidak bahagia, itu artinya lo jauh dari Tuhan. Dengan kalimat tersebut, gue benar-benar merasa kalau itu artinya gue harus mencari Tuhan dan menjadi dekat dengan-Nya, dan itulah yang gue coba. Gue berdoa dengan khusyuk, gue berusaha mencari Dia dengan segala ketidaknyamanan, gue memanggil-manggil Dia setiap malam, mencari tahu keberadaan-Nya dalam hidup gue. Hampir segala hal telah gue coba. Gue memang bukan orang yang cukup sabar untuk melakukan hal-hal tadi dalam waktu yang lama. Gue hanya melakukan hal-hal tersebut dalam waktu yang singkat, namun gue sudah ada di tahap gregetan, depresi, bingung harus bagaimana lagi agar bisa dekat dengan Tuhan dan menjadi bahagia. Pada titik itulah, gue malah merasa muak dengan statement ‘cari Tuhan’, hingga akhirnya gue memutuskan untuk menyudahi segala hubungan gue dengan Tuhan.

Gue berhenti berdoa, berhenti ke Gereja, berhenti baca Alkitab. Gue merasa lelah, bingung harus mencari Tuhan di mana. Gue butuh jawaban secepatnya. Namun, satu hal yang harus diingat. Tidak ada segala sesuatu yang instan. Semuanya pasti butuh proses. Itulah proses gue dalam mencari diri gue sendiri dalam kata dan sosok Tuhan. Akhirnya, gue menemukan dengan sendirinya apa yang orang sebut dengan jauh dari Tuhan dan kaitannya dengan kebahagiaan, tanpa perlu melakukan banyak usaha. Bukan masalah dekat atau jauh dengan Tuhan yang menjadikan kita bahagia. Yang menjadikan kita bahagia adalah ketika kita bisa belajar untuk berpasrah, menyerahkan segala sesuatunya kepada Tuhan –atau keadaan, atau semesta, atau apapun yang lo percayai kalau lo nggak percaya keberadaan Tuhan, dan duduk diam menunggu hasilnya untuk belajar percaya bahwa apapun yang terjadi, itulah yang terbaik. Ini yang gue maksud meluangkan waktu untuk Tuhan, yaitu membiarkan Dia bekerja dalam hidup kita. Tips ketiga gue adalah percaya akan keberadaan Tuhan, menyerah kepada kuasa-Nya di saat lo merasa sudah tidak mampu, dan biarkan Ia yang menyelesaikan, yang penting kita percaya bahwa apapun yang terjadi saat ini, sekalipun itu hal yang buruk, adalah hal yang terbaik bagi kita.

Bagi gue, Tuhan tidak perlu di cari karena Tuhan ada dalam diri kita semua. Yang diperlukan dari kesemuanya dalam hidup ini untuk mencari kebahagiaan adalah keseimbangan. Dalam hidup lo ada Tuhan, ada hal-hal yang membantu lo untuk tetap waras, ada hal-hal yang lo sukai, dan ada hal-hal yang lo sengaja relakan dari ketiga hal ini demi menambah satu item lagi, yaitu cinta. Cinta akan diri sendiri, cinta akan sesama. Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, bahkan ketika lo bertujuan untuk mencari Tuhan, yang ujung-ujungnya malah mungkin menghasilkan hal yang sama seperti yang pernah gue alami sebelumnya.

Di pagi hari, hal pertama yang harus lo lakukan adalah cari Tuhan. Di siang hari, lakukan pekerjaan lo. Kalau belum bisa melakukan kuliah atau pekerjaan yang sesuai keinginan dan kesukaan, terlebih ketika hanya ada pilihan untuk bertahan, ya lakukan saja. Kalau ada pilihan untuk menjadi bahagia dengan mengejar kuliah atau pekerjaan yang memang lo sukai, lakukan. Di sore hari menjelang malam, isi hari lo dengan melakukan apa yang lo suka. Kalau lo merasa lagi pengin nonton atau baca buku, ya tolak saja ajakan hangout dari teman-teman lo sepulang kuliah atau kantor. Kalau lo merasa lagi pengin masak, ya masak saja dan jangan delivery makanan dari luar. Intinya, lakuin hal-hal yang lo suka. Di malam hari, kembali tutup hari lo dengan Tuhan. Hal-hal yang lo lakukan di sore hari nggak selalu harus sama setiap hari. Sesuaikan dengan kebutuhan lo, yang penting lo melakukannya memang dengan rasa senang dan sepenuh hati tanpa beban atau paksaan. Lo bisa ganti dengan olahraga, mengerjakan pekerjaan sampingan yang memang lo sukai, membuat project yang selama ini lo idam-idamkan, atau bahkan sesimpel meluangkan waktu untuk ngobrol sama keluarga. Variasiin kegiatan yang lo lakukan di siang dan sore hari. Hanya dengan begitu, lo bisa tetap kuliah, bekerja, dan merasakan banyak pengalaman baik dari diri lo sendiri ataupun dari orang lain.

Itu cara-cara gue dalam menemukan diri gue sendiri –bisa dibilang rumus hidup gue, mungkin. Walau tidak bisa gue pungkiri kalau tetap ada hal-hal yang bisa membuat gue merasa sedih, marah, dan lain sebagainya, namun sampai saat ini gue bisa mengatakan kalau gue cukup bahagia. Mungkin, pekerjaan yang gue jalankan saat ini bukanlah pekerjaan impian gue, atau bukan pekerjaan yang 100% gue sukai. Mungkin, ada banyak permasalahan dalam hidup gue yang cukup sering membuat gue stres dan bersedih. Tapi, itulah hidup, dan untungnya gue masih merasa cukup bahagia.

Gue nggak bisa menjanjikan apapun dari tulisan ini, karena segala perubahan yang ingin lo lakukan, tetap berawal dan bermula dari diri lo sendiri, tapi… Di tengah segala kesibukan dunia ini, di tengah segala pergerakan dan perubahan yang terjadi dengan sangat cepat, apa salahnya sih untuk santai sejenak dan menikmati hidup?

Yang terutama adalah meluangkan waktu untuk menikmati hidup. Dalam Alkitab, tidak ada yang lebih nikmat dalam menemukan kebahagiaan diri di hidup ini selain makan dan minum, dan melakukan apa yang kita sukai. Hal ini sudah gue alami sendiri. Nggak ada salahnya kok, dengan bersantai dan melakukan progress sedikit demi sedikit. Lebih baik sedikit demi sedikit kemudian menjadi bukit dan berhasil, daripada banyak kemajuan dalam satu waktu hanya untuk menjadi tidak terselesaikan karena kita yang terlebih dahulu ‘selesai’ dalam kesibukan dan cepatnya pergerakan dunia. Hidup ini hanya tentang lo dan lo sendiri, bukan tentang lo dan orang lain untuk saling membandingkan siapa yang lebih dulu dan lebih hebat. Semua orang punya waktunya masing-masing, begitu pun lo. Jadi, luangkan waktu lo dan nikmati hidup ini ya.

Jangan lupa bahagia hari ini, cheers!

 

Made with love,
Aini

Leave a Reply