Journal Self Wellness

Realita Hidup dan Cara Hidup

Akhir-akhir ini gue banyak berpikir lebih dalam tentang hidup secara general. Gue nggak lebih mahir, nggak lebih dewasa, nggak lebih bijak, nggak lebih berpengalaman dari siapapun. Gue cuma senang memikirkan berbagai kenyataan yang ada di kolong langit dan bagaimana kita hidup berdampingan dengan seluruh realita itu.

Dari beberapa pikiran yang muncul, gue mulai menyimpulkan beberapa hal.

Hidup itu, sulit dan mudahnya tergantung perspektif, bukan tergantung banyaknya harta. Betul, harta secara material membantu kehidupan manusia menjadi lebih mudah dan nyaman. Tetapi kemudahan dan kenyamanan dalam hidup bukan berarti hidup secara keseluruhan adalah hal yang mudah untuk dilalui. Kalau yang menjalani kehidupannya merasa aman-aman saja, santai-santai saja tidak merasa ada satupun masalah besar dalam hidupnya, terus-menerus bersyukur akan apa yang ia punya walau tidak banyak, ya wajar saja kalau orangnya merasa hidupnya mudah. Kalau orang yang walau sudah punya banyak hal masih merasa kurang, entah itu kurang banyak waktu, kurang banyak uang, kurang ini, kurang itu, pikirannya negatif terus merasa masalahnya selalu datang bertubi-tubi tidak ada akhirnya, ya jelas saja hidupnya terasa berat.

Kaya dan miskinnya seseorang, memangnya sudah ada tolak ukur pasti? Kalau orang dengan kekayaan lebih dari sekian pasti orang kaya, atau kalau kurang dari sekian berarti miskin. Apakah begitu? Balik lagi, kaya dan miskin itu tergantung perspektif. Kalau perspektifnya mengartikan bahwa hidup berkecukupan adalah kaya, maka mungkin sebagian besar orang di muka bumi adalah orang kaya. Kalau perspektifnya mengartikan bahwa hidup yang penuh gemilang, barang branded, liburan sana-sini, harus punya rumah, mobil, dan lain-lain (silahkan diteruskan sendiri) adalah kaya, maka mungkin sebagian besar orang di muka bumi ini adalah orang miskin, yang mungkin juga termasuk diri lo.

Jadi poin pertama yang gue simpulkan adalah perspektif membantu kita untuk menjalani hidup. Hidup yang seperti apa, tergantung pada perspektif seperti apa yang kita miliki.

Perspektif itu kemungkinan besar terbentuk karena pikiran dan perkataan seseorang. Pikiran dan perkataan adalah hal-hal yang dibentuk di alam sadar, secara sadar, tetapi mempengaruhi psikologis seseorang sampai ke alam bawah sadar. Semakin sering lo berpikir dan berkata yang negatif, nggak heran kalau psikologis dan perspektif lo menjadi negatif. Ketika psikologis dan perspektif lo negatif, maka apapun yang lo lakukan di dunia juga akan terlihat sebagai hal negatif. Sebaliknya, ketika lo berpikir dan berkata hal-hal yang positif secara sadar, maka psikologis dan perspektif yang terbentuk akan hampir selalu positif, yang mana itu membantu lo untuk menjalani segala sesuatu dengan lebih ringan dan positif.

Jadi, poin keduanya adalah secara sadar berpikir dan berkata-kata yang positif. Lo mungkin bertanya caranya gimana. Caranya ya dengan mengubah pola berpikir lo. Kapanpun lo mau mengucapkan sesuatu yang negatif, atau sekedar berpikir dan mengeluh saja, ingatkan diri lo untuk berhenti dan ucapkan yang positif-positif. Bukan berarti lo nggak boleh mengeluh, tapi lakukanlah seminim mungkin. Sekali lo berpikir negatif, seterusnya hal itu akan terlihat dan terasa negatif bagi diri lo.

Poin kedua ini bisa dilakukan ketika misalnya lo mulai berpikir bahwa diri lo nggak cantik atau ganteng, nggak pintar, sekolah terasa berat, dan lain-lain. Mulai untuk mengubah pola pikir ini dengan berpikir bukan lo yang nggak cantik atau ganteng, tapi standar kecantikan atau kegantengan dunia yang terlalu tidak wajar. Bukan sekolah yang terasa berat karena ujian atau tugasnya yang banyak, tapi itu adalah salah satu cara untuk membantu diri lo menjadi berwawasan lebih luas, menjadi pengalaman untuk dicoba selagi masih ada kesempatan.

Kemudian, baik dan buruknya seseorang itu tidak bisa disama-ratakan. Apakah orang baik berarti ia tidak pernah menyakiti orang lain? Gue nggak yakin sih. Sebaik-baiknya orang, pasti ada kalanya dia melakukan sesuatu yang menyakiti orang lain. Apakah orang yang menegur lo sampai lo merasa sakit hati kalau lo salah berarti orang jahat? Ada kalanya sesuatu memang harus disampaikan atau dilakukan dengan keras. Memang, sesuatu yang keterlaluan bisa menimbulkan kepahitan, luka yang mendalam di dalam hati. Tapi kembali lagi, itu tergantung perspektif yang menerima. Kalau yang menerima teguran mau sedikit merendahkan diri, mengakui bahwa ia salah, tidak merasa teguran yang diberikan kepadanya berarti sesuatu yang jahat, bukannya tidak mungkin teguran itu menjadi sesuatu yang baik.

Memangnya kalau orang yang membiarkan lo melakukan hal-hal buruk yang lo inginkan berarti dia orang baik, karena pola pikirnya sejalan dengan pola pikir lo? Belum tentu. Bisa jadi ada maksud di balik kebaikannya untuk setuju dengan lo. Apapun itu, lo tidak bisa serta-merta menilai orang plek-plekan, seperti melihat dunia hanya dalam warna hitam dan putih. Hidup itu jauh lebih berwarna, jauh lebih dinamis, jauh lebih unik, dari yang lo pikirkan.

Buat gue sendiri, nggak ada orang yang 100% baik atau buruk. Nggak ada orang baik atau jahat. Semua orang pasti punya alasan untuk melakukan sesuatu, seberapapun merugikannya hal itu terhadap orang lain. Tapi yang perlu dilakukan, bukannya membalas hal itu dengan kejahatan lagi. Sebisa mungkin balas dengan kebaikan yang bisa kita lakukan, semampunya. Hukuman atau sanksi ya biar menjadi hukuman. Itu sesuatu yang harus dijalani. Konsekuensi akan selalu ada dari setiap tindakan dan pilihan hidup. Tidak bisa dihindari. Bahkan, konsekuensi biasanya menjadi salah satu cara untuk manusia belajar dari kesalahan mereka. Bukan berarti dengan lo membiarkan seseorang mendapatkan hukuman berarti lo menjadi orang jahat. Tapi, usahakan sebisa mungkin untuk tidak mendendam, apalagi berlarut dalam kemarahan. Itu adalah cara terbaik yang bisa dilakukan terhadap semua mahluk hidup.

Jadi poin ketiga yang bisa gue simpulkan adalah hidup itu tidak bisa dilihat secara hitam dan putih saja. Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan. Lo nggak mesti mahir dalam hal ini, berlaku adil terhadap semuanya dan berusaha menjadi sebaik mungkin. Yang perlu diingat dan sebisa mungkin dilakukan adalah berterima kasih kepada siapapun yang berlaku baik kepada lo, dan merelakan siapapun yang berlaku jahat kepada lo. Apa yang memang menjadi bagian lo, pasti akan lo rasakan, atau dapatkan. Jadi jangan khawatir. Seberapa jauh pun lo menghindar dari kejahatan seseorang, kalau memang sudah jalannya semesta untuk lo merasakannya supaya lo bisa semakin dewasa dan berkembang, ya lo akan merasakannya. Jadi apapun reaksi lo terhadap orang itu, atau masalah hidup lo, atau literally apapun yang lo rasakan… nggak akan banyak mempengaruhi orangnya, atau masalahnya. Lo marah malah akan memperburuk suasana. Dengan lo belajar untuk letting go, beban hidup lo malah akan terasa lebih ringan. Marah atau letting go, tidak akan ada banyak perbedaan kok. Balik lagi, apapun yang memang harus lo rasakan, akan selalu lo rasakan, entah bagaimana respon lo terhadap hal itu.

Percaya diri adalah sesuatu yang baik. Punya prinsip adalah sesuatu yang keren. Bersikap dan berpikir positif adalah hal terbaik yang bisa dilakukan walaupun sulit. Sebutkan juga hal baik lainnya. Tapi, segala sesuatu punya waktu dan tempatnya. Harus ada batasan, harus lihat situasi dan kondisi. Kalau memang salah, ya harus mau rendah hati dan bertanggung jawab, minta maaf, menerima dan mengakui kesalahan diri. Kalau prinsip lo merugikan banyak pihak sampai pada tahap mengancam kejiwaan, kewarasan, kehidupan mereka, ya nggak ada salahnya lo pertimbangkan. Kalau memang lo harus bersikap tegas, sedikit menyinggung orang lain, atau lo harus berpikir sedikit pesimis bukan karena tidak percaya diri melainkan untuk berjaga-jaga dan setidaknya bersiap dengan beberapa kemungkinan yang lo bisa skenariokan di dalam otak, kenapa harus mempertahankan sikap dan pikiran positif lo?

Menjadi diri sendiri itu baik. Bisa mempertahankan segala sesuatu yang positif itu baik. Hanya saja, segala sesuatu perlu melihat situasi dan kondisi. Yang bisa bertahan dalam hidup bukan yang 100% baik, keren, sabar, positif, dewasa, percaya diri, dan lain-lain. Yang bisa bertahan dalam hidup adalah mereka yang bisa beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan keadaan. Ini adalah poin keempat yang bisa gue simpulkan.

Terakhir… Hidup ini memang aneh dan keras. Nggak adil dan mengesalkan. Tapi, mau bagaimanapun lo komplain dan mengeluh, pola jalannya hidup tidak akan berubah, akan selalu seperti ini. Seberapa keras pun lo berusaha, lo nggak akan bisa menyenangkan semua orang, sama seperti nggak semua orang bisa menyenangkan atau memuaskan hati lo. Nggak semua orang membicarakan atau menyinggung tentang lo. Dunia ini nggak berputar cuma di sekeliling lo saja. Jadi, nggak perlu peduliin orang lain. Lakukan apa yang ingin lo lakukan. Lakukan apa yang lo sukai dan cintai. Lakukan saja. Kunci untuk menjalani hidup yang bearable dan bahagia adalah mengikuti kata hati. At least, kalau lo nggak yakin apakah itu kata hati atau bukan, setidaknya lo melakukan apa yang lo tau pasti mau lo lakukan.

Memang, nggak semua yang ingin kita lakukan akan memiliki akhir yang indah, nggak semuanya berbuah manis. Tapi ketika kita melakukan apa yang kita suka, apa yang kita pilih benar-benar dari hati, jelas-jelas apa yang kita mau, hal itu akan lebih mudah untuk dijalani meski hasilnya mungkin tidak sesuai harapan. Manusia tidak bisa menentukan hasil, tapi manusia bisa memilih proses seperti apa yang mau ia jalani. Hasil itu punya Semesta, punya Tuhan, tapi proses punya kita. Manusia, lo dan gue, kita semua dikasih kebebasan untuk memilih, mau ambil jalan yang mana, mau merasa seperti apa, mau berperspektif seperti apa. Hanya dengan fokus akan kebahagiaan sejati diri sendiri, tidak melulu mempedulikan apa yang orang katakan, baru lo bisa hidup dengan lebih baik, luar dan dalam.

Jadi kesimpulan kelima dan terakhir untuk menjalani hidup ini adalah lakukan apa yang ingin lo lakukan selama itu positif dan tidak merusak diri lo sendiri ataupun menggangu orang lain. Lo yang tahu hidup lo, lo yang tahu diri lo. Mendengar saran dan nasihat ataupun kritik orang lain itu baik. Lo bisa belajar untuk dewasa dan menerima atau mengakui kekurangan lo, tapi yang memilih jalan mana yang harus diambil dan dilalui itu lo sendiri, bukan mereka yang bisanya cuma ngomong dan tidak membantu. Pilih dan rancang hidup lo sendiri sesuai yang lo mau. Jalannya nggak selalu mulus, hasilnya nggak selalu baik, tapi rasa saat menjalaninya akan lebih bermakna dan memorable.

Kesimpulan dari tulisan yang super duper panjang ini adalah… hidup itu penuh ketidak pastian. Menjalani hidup juga nggak harus plek-plekan ngikutin pemikiran gue di tulisan ini. Semua orang punya caranya masing-masing. Nggak ada formula atau rumus pasti gimana menjalani hidup yang baik. Nggak perlu takut gagal, karena memang hidup manusia nggak ketebak, nggak ada yang bisa nebak juga sih, dan pastinya penuh ketidakpastian. Gagal bukan berarti hidup lo selesai. Gagal berarti ada sesuatu yang harus lo pelajari dari kesalahan sebelumnya, ada sesuatu yang lo harus perbaiki, ada sesuatu yang harus lo review dari pola pikir lo dan cara lo menjalani kehidupan itu. Jadi, jalani aja yang ada di depan mata. Memilihlah dengan bijak apapun yang harus dipilih. Jangan sesali hal-hal buruk yang terjadi. Lihatlah hal buruk itu sebagai sesuatu yang bisa lo pelajari dan jadikan pengalaman untuk hari yang akan datang, supaya lo bisa lebih baik lagi dari sebelumnya. Lakukan apa yang lo bisa lakukan, apabila melakukan apa yang lo sukai terdengar dan terlihat terlalu mustahil dan jauh untuk diraih. Waktunya akan datang di mana lo bisa benar-benar melakukan apa yang lo ingin dan suka lakukan. Sekarang, jalani saja dengan lapang dada. Terus bermimpi sambil berusaha, mengambil segala kesempatan yang bisa lo ambil, bukannya hanya bermimpi saja dan melewatkan setiap kesempatan yang lewat di depan mata.

Selamat menjalani pahit manis asam asinnya hidup. Hidup itu indah, hanya cara lo memandangnya saja yang salah.

Warm hug,

Photo by Priscilla Du Preez on Unsplash

Leave a Reply