Journal Movies & Drama Review

Pribumi.

Kata pribumi itu sebenarnya masih ada nggak sih, di era modern nan maju ini?

Baru banget nonton film Bumi Manusia* yang diangkat dari novel karangan Pramoedya Ananta Toer dan disutradai oleh Hanung Bramantyo, dan gue bener-bener tersadarkan, terharu, sekaligus amazed dengan perjuangan bangsa Indonesia sebelum kemerdekaan itu ada.

Lahir dan tumbuh di zaman merdeka, belum mengerti apa itu orde lama dan orde baru meski ada di tengah-tengah pertumpahan darah pada waktu itu, gue benar-benar bersyukur bisa hidup dengan segala kemudahan teknologi dan digitalisasi. Gue bangga gue adalah warga negara Indonesia, negara yang berusaha untuk merdeka dengan darah para pahlawannya bukan karena mereka pada saat itu lebih rendah derajatnya dari para penjajah, namun karena semangat dan keberanian itu belum tumbuh. Mereka hanya belum sadar akan nilai mereka sebagai bagian dari sebuah bangsa besar.

Gue warga negara Indonesia. Made in Indonesia, born in Indonesia, grow in Indonesia, love this country more than ever day by day. But by the way, gue keturunan, pure, murni tanpa campuran. Pecinan, bahasa Indonesianya. Orang Cina, bahasa rasisnya. Orang keturunan Tiongkok, bahasa sopannya. Surprised to see me writing this? I’m not. Ini kan era bebas berpendapat 🙂

Dari kecil, keluarga besar gue selalu membatasi pertemanan gue dengan warga asli Indonesia. Aneh sebenarnya bagi gue menulis ‘warga asli Indonesia’ seolah-olah gue dan mereka, keluarga gue, bukan ‘warga asli Indonesia’. Gue tulis ‘pribumi’-pun, menurut gue masih kurang pantas disebutkan lagi karena seharusnya memang sudah tidak ada perbedaan itu. Tapi untuk saat ini, demi kejelasan bercerita dan dimengerti, baiklah, akan gue sebut dengan ‘orang keturunan’ dan ‘pribumi’. Please guys, no offense. Sejak kecil, gue selalu disekolahkan di sekolah yang sebagian besar siswa/i-nya orang keturunan. Bukannya tidak ada pribumi. Ada, tapi sedikit. Tinggal pun, pasti di tempat yang sebagian besarnya orang keturunan juga. Lagi-lagi bukannya tidak ada ya, hanya saja di sekitar gue saat itu, jumlah pribumi agak lebih sedikit dibandingkan orang keturunan.

Lantas, bagaimana dengan hidup berdampingan antara orang keturunan dengan orang pribumi? Apakah bermasalah? Oh, tentu tidak. Gue dibesarkan dengan suster dan mbak, yang jelas semuanya pribumi. Kalau dipikir-pikir, mungkin masa kecil gue pun lebih banyak dihabiskan oleh mereka dibanding kedua orang tua gue sendiri. Gue bergaul dan berbincang dengan teman-teman bokap, yang kebanyakan dari mereka adalah orang pribumi. Membeli kebutuhan sehari-hari pun jelas dari pribumi. Kehidupan gue berputar di sekitar dan dikelilingi orang pribumi. Lalu, apakah itu cukup untuk mematahkan persoalan rasisme dalam kehidupan warga negara Indonesia? Sayangnya, tidak.

Jujur, gue tumbuh dengan tembok dan batasan dari keluarga yang seringkali menyebut kata pribumi, seolah-olah menjadi orang keturunan berbeda sekali dengan menjadi orang pribumi. Frankly speaking, my whole family used to be racist. Well, surprise! Bukan hanya orang pribumi yang sering dicap rasis, orang keturunan pun ternyata bisa rasis. Batasan dan pemikiran bahwa orang pribumi lebih buruk dari orang keturunan masih mengalir dalam pikiran keluarga gue, seolah mereka hidup pada zaman penjajahan dan turut menjajah warga tanah air, padahal mereka pun lahir setelah Indonesia ada. Setelah negara ini merdeka.

Seiring dengan berjalannya waktu, pelajaran-pelajaran di sekolah tentang sejarah dan kewarganegaraan Indonesia, lalu segala informasi yang dengan mudahnya didapat mengiringi perkembangan dan pendewasaan pola pikir, membuat gue bertanya-tanya tentang keadilan, tentang kemanusiaan, tentang keberadaban, tentang perasaan, pada masa penjajahan. Sekejam itu, kah? Sebegitu menderitanya kah mereka? Sesulit itu kah untuk menjadi bebas dan menjadi diri sendiri?

Semakin bertambah besarnya angka usia gue, semakin luas juga pergaulan gue. Sejak kecil, gue terbiasa ramah dengan orang lain tanpa mengenal suku, ras, warna kulit, agama, penampilan fisik, ataupun usia. Well, kalaupun ada yang mengenal gue dan ingat bahwa gue pernah menjadi jutek atau judes, percayalah bahwa itu tidak ada urusannya sama sekali dengan suku, ras, agama, warna kulit, model rambut, status sosial, kondisi finansial, dan masih banyak lagi. Itu hanya gue menjadi diri gue dengan bebasnya di era serba bebas ini. Untungnya, keramahan gue bertahan hampir di sebagian besar waktu hidup. Bercengkrama dengan guru, orang tua teman, teman sekolah ataupun kursus, pembantu, supir, driver ojol, pedagang asongan, penjual mie ayam, penjaga warung, yang semuanya pribumi tanpa membeda-bedakan. Biar bagaimanapun, kalau mau bicara tentang keberadaan orang pribumi, selama tinggal di Indonesia, ya gue akan terus bertemu dengan itu. Toh, pemikiran yang ada sejak zaman penjajahan adalah tanah ini, bangsa ini, adalah milik orang pribumi kan, penduduk asli tempat dan bangsa yang nantinya merdeka dan berdiri dengan nama Indonesia? Lalu, kenapa sampai sekarang pun masih ada sebutan itu? Pribumi. Siapa yang masih menggunakannya? Untuk apa disebut-sebut lagi? Masihkah manusia dibedakan dari suku dan rasnya? Apakah orang keturunan saja kah (entah itu keturunan Tiongkok, Jepang, Korea, India, Belanda, Jerman, Arabia, dsb) yang menggunakan sebutan pribumi itu, atau ternyata orang pribumi itu sendiri yang juga masih menggunakannya? Lantas, apa sih sebenarnya arti kata pribumi itu sendiri?

Dalam KBBI, arti kata pribumi adalah penduduk asli atau awal dari suatu tempat. Membicarakan pribumi negara Indonesia berarti sedang membicarakan Pribumi-Nusantara. Salahkah masih menggunakan kata pribumi? Menurut gue, tidak. Bukan salah dari menggunakan kata pribumi jika hanya sekedar untuk membedakan mana yang berdarah asli Indonesia, mana yang campuran, atau mana yang justru memang pendatang murni, namun penggunaan kata itu menjadi salah ketika ada nilai-nilai yang hilang dan justru tergantikan dengan nilai-nilai minus yang tak sepantasnya disematkan. Selama tumbuh besar, bukan pribumi yang berarti warga asli Nusantara tanpa ada embel-embel apapun yang gue dengar, tapi justru pribumi yang berarti warga asli Nusantara yang lebih rendah statusnya, yang bodoh, yang malas, yang suka main kasar, yang jahat, yang ini, yang itu. Hanya negatif-negatifnya saja yang gue tahu. Dari perbedaan kontras yang keluarga gue berusaha ciptakan saat gue masih sangat belia, semakin besar semakin gue berpikir, apakah iya manusia-manusia yang disebut pribumi ini memang lebih rendah statusnya? Memang lebih bodoh? Lebih buruk, dari orang keturunan manapun, atau dari orang-orang luar negeri?

Dulu, orang-orang pribumi yang gue temui saat kecil hanya orang-orang dari kalangan bawah. Pekerja kasar, supir, pembantu, karyawan, pedagang. Sejak beberapa tahun terakhir hingga sekarang, di saat gue mulai kritis, gue juga mulai dipertemukan dengan orang-orang pribumi yang hebat secara duniawi. Sukses secara karir, finansial, pendidikan. Gue juga tahu dan lihat dengan mata kepala gue sendiri orang-orang pribumi yang bajik, baik, rendah hati. Semua pandangan dan pemikiran negatif tentang orang pribumi perlahan-lahan tergeser dengan pola pikir lain yang berhasil gue sadarkan. Bukan tentang mereka pribumi atau bukan, bukan tentang penampilan dan pekerjaan mereka saat gue kecil dulu yang lebih sering terlihat lusuh atau kotor, tapi tentang mereka sebagai manusia. Biar bagaimanapun, mereka juga manusia yang harus dinilai secara manusiawi, lewat perasaan, logika, dengan hati, dengan rasa menghargai dan menghormati. Lagi-lagi, sebagai manusia, bukan sebagai pribumi. Kalaupun ada orang pribumi yang ternyata jahat, kasar, dan entah apalah itu, gue percaya bukan karena ia adalah orang pribumi maka ia jadi seperti itu. Butkinya banyak orang pribumi lain yang tidak seperti itu, dan banyak juga orang keturunan lain yang sama jahatnya, kasarnya, buruknya, bodohnya. Jadi, gue sangat menentang kalau ada yang mengatakan bahwa orang pribumi itu blablabla yang negatif. Sekali lagi, bukan rasnya, tapi kepribadiannya sebagai manusia. Ingat bahwa lingkungan, Pendidikan, pola pikir-lah yang berpengaruh langsung, bukan justru ras atau suku atau asal nasionalisme yang seharusnya tidak ada hubungannya sama sekali.

Kalau dikilas balik, gue akui pada waktu gue kecil, keluarga gue adalah keluarga yang luas pergaulannya terbatas. Tetap di lingkungan orang-orang keturunan, bercengkrama bersama-sama bertahun-tahun, kurangnya akses informasi ataupun internet yang memadai seperti sekarang ini, membuat mereka, keluarga gue, orang-orang keturunan Tiongkok, yang mungkin melakukan hal rasisme yang sama dengan beberapa orang keturunan lain dari keluarga lain entah siapa itu, berpikir dengan sempit. Itu salah satu factor penyebab ada sebutan pribumi dengan arti yang berbeda dari yang seharusnya dari orang-orang keturunan. Atau, mungkin saja karena rasisme yang lebih dulu mereka alami juga oleh karena orang-orang pribumi itu sendiri. Kalimat ini gue tuliskan dan seolah gue ucapkan bukan karena gue orang keturunan yang suku, ras, bahkan etnisnya sering diancam, diperlakukan semena-mena, dan lain-lain. Kalimat ini gue ucapkan karena gue memang berusaha menempatkan diri di sepatu orang-orang keturunan di masa itu yang justru dibantai habis-habisan oleh orang-orang pribumi. Kalau gue yang jadi mereka, orang-orang keturunan yang ketakutan sekali untuk keluar rumah karena kerasisan, kekerasan, kekacauan yang dibuat orang pribumi hanya karena gue orang keturunan, mungkin gue juga akan sama membatasi diri gue ataupun keluarga dan menjadi sama rasisnya dengan mereka yang merasakan langsung di kehidupan nyata. Nyatanya, gue sama sekali tidak merasakan itu dan hanya menyaksikan dari buku ataupun film. Jadi bukan posisi gue untuk mengatakan apa yang seharusnya dan apa yang tidak seharusnya gue lakukan terhadap orang-orang pribumi secara general (baca:rasisme), karena, lagi, gue tidak merasakannya, dan juga karena tidak semua, tidak secara general, orang-orang pribumi sama jahatnya, sama rasisnya, sama buruknya, dengan orang-orang yang pada saat itu kebetulan jadi bagian lembaran hitam negara Indonesia.

Harapan gue akan adanya pemahaman bahwa baik pribumi atau keturunan atau orang yang berlatar suku dan ras apapun justru bukan muncul karena gue orang keturunan yang dianggap berbeda juga saat ini sama seperti keberadaan pribumi yang dianggap berbeda oleh orang Eropa pada zaman penjajahan, namun harapan gue muncul karena gue melihat ada ketidak seimbangan itu. Ada perbedaan yang jauh dan ketidakadilan. Harapan itu muncul karena gue sadar masih banyak orang yang ternyata belum paham arti menghargai di era kemerdekaan negara ini, termasuk beberapa dari keluarga gue.

Manusia tidak seharusnya diperlakukan berdasarkan suku ataupun ras mereka, apalagi berdasarkan warna kulit, jenis rambut, logat, bahasa, apapun itu. Manusia seharusnya diperlakukan selayak-layaknya seorang manusia. Sama seperti gue dan lo ingin diperlakukan dengan baik oleh orang lain, begitupun juga gue dan lo harus memperlakukan orang lain dengan baik sama seperti gue dan lo menginginkan perlakuan itu dari orang.

Hari-hari ini, apakah memang arti pengunaan kata pribumi masih berarti orang yang tak berarti, orang bodoh, orang ini, orang itu, orang yang penuh dengan prasangka negatif, orang yang berbeda dan dibedakan, orang yang menjadi budak di tanahnya sendiri, atau penggunaan kata pribumi hanya sebagai identitas semata tanpa ada pengurangan nilai diri sebagai bangsa Indonesia, Nusantara, untuk memudahkan penjelasan mengenai perbedaan orang-orang keturunan dan orang-orang pribumi?

Tulisan gue ini dibuat murni dari pemikiran gue sendiri yang mempertanyakan masa kini bahwa apakah keadilan dan rasa menghargai orang lain masih mengenal suku, ras, dan agama seperti dulu, tepat setelah melihat betapa perbedaan dapat memengaruhi hukum pada zaman penjajahan. Gue ter-triggered untuk mengeluarkan opini karena gue tahu gue masih ada andil dalam beberapa rasisme yang terjadi di tanah air. Mungkin gue tidak mengatakannya keras-keras lewat mulut, tapi sudah terpikirkan di kepala saja membuat gue merasa buruk. Jadi pada akhirnya, tulisan ini gue buat untuk mengajak semua orang yang membaca, lo yang usia remaja, lo yang dewasa muda, berapapun usia lo, untuk bisa menghargai orang lain dan memperlakukan orang seperti lo ingin diperlakukan. Ingatlah selalu dan ini yang terpenting bahwa mereka yang pribumi dengan pengartian buruk sekalipun juga adalah seorang manusia, dan sudah selayaknya manusia diperlakukan seperti manusia dengan penuh rasa hormat dan menghargai, mau dia pribumi atau bukan. Sulit, namun bukan berarti tidak mungkin.

Terakhir, gue memohon maaf kepada para pembaca yang mungkin merasa tidak nyaman, tidak enak, marah, kesal, kecewa. Gue mohon maaf juga apabila ada yang mengganggu atau ada yang salah dari isi tulisan ini. Silahkan berpendapat, silahkan berkomentar, silahkan mengirim DM sekalipun kalau lo niat. Dengan lapang dada dan setulus hati gue usahakan untuk terima. Gue juga mewakili keluarga gue dan seluruh orang keturunan lain apabila ada yang pernah memperlakukan orang-orang pribumi dengan tidak layak dan adil, terutama orang-orang kecil yang tak berjabatan, tak berpendidikan, tak berkelimpahan materi, dan masih banyak lagi kriteria lainnya. Mari kita jaga keharmonisan negara dengan saling menghargai dan menghormati tanpa mengkotak-kotakan, membeda-bedakan, mendiskriminasi hanya karena suku, ras, warna kulit, dan agama. Pribumi atau bukan, keturunan Tiongkok atau bukan, berkulit hitam atau putih, kita semua tetap sama, manusia dan warga negara Indonesia. Menurut gue, itu saja yang terpenting. Kita semua, terlepas dari apapun keturunannya, adalah satu kebangsaan dan satu kewarganegaraan, Indonesia.

Yang lalu biarlah berlalu. Mulai saat ini, mari kita jaga keharmonisan negara dengan saling menghargai satu sama lain apapun suku, ras, warna kulit, jenis rambut, dan semuanya.

Semoga membukakan pikiran dan selamat menghargai orang lain.

Salam hangat,

*Cerita romantisme remaja yang sebutannya bucin namun penuh dengan semangat mencari keadilan dari diskriminasi sebagai seorang pribumi.

Leave a Reply