Journal Self Wellness

persimpangan pilihan.

Kegalauan terhaqiqi atau kegalauan terhebat di masa muda adalah menentukan untuk mengejar passion atau kebutuhan (baca:uang). Jangankan menetukan mana yang harus dipilih antara kedua itu. Menentukan apa passion-nya saja, banyak anak muda yang masih bingung. Passion gue apa ya? Gue suka nyanyi nih, itu udah bisa dibilang passion belum? Kalau gue maksain untuk jadi pelukis, gue bisa dapat uang nggak ya? Pertanyaan-pertanyaan ini yang seringkali muncul dan menjadi pertanyaan di dalam diri anak-anak muda. Well, bahkan mungkin aja loh ada orang yang ‘udah nggak muda’ lagi tapi masih galau mikirin hal kayak gini.

Seringkali hidup kita ada di persimpangan pilihan antara keinginan dan kebutuhan, antara diri sendiri dan orang lain, antara kata hati dan pikiran. Nggak ada yang salah atau benar karena hidup memang sudah seharusnya penuh akan pengalaman, manis ataupun pahit, dan setiap orang pasti punya perspektif yang berbeda dalam menyikapi tantangan dalam hidup, namun memang berada di persimpangan membuat banyak orang merasa serba salah dengan pilihan apapun yang diambil. Jika memilih untuk memenuhi keinginan, maka kebutuhannya harus sedikit-banyak ‘terlantar’. Jika memilih untuk memenuhi kebutuhan, maka rasa penasaran akan keinginannya terus menjadi. Masukkan kata ‘jika …’ lainnya yang memang menjadi kegalauan lo sekarang. Pasti, apapun jadi terlihat serba salah.

Sebenarnya, bukan pilihan apapun yang diambil lantas menjadi salah karena lo merasa ‘serba salah’. Hanya saja setiap pilihan yang diambil pasti punya konsekuensi yang harus ditanggung. Maka dari itu, permasalahan sekarang bukan lagi tentang mana yang lebih baik untuk diambil, tapi tentang mana yang konsekuensinya paling sanggup untuk ditanggung.

Entah gimana menurut lo, tapi kalau menurut gue, konsekuensi dari mengalahkan keinginan untuk sementara lebih mampu gue tanggung dibanding konsekuensi dari keharusan mengalahkan kebutuhan. Gue bisa bicara begini karena gue sendiri sudah menjalaninya dalam hidup ketika gue ada di persimpangan pilihan antara kuliah dan mengejar cita-cita, atau bekerja dan memenuhi kebutuhan. Dengan memilih bekerja dan memenuhi kebutuhan, bukan berarti gue berhenti bermimpi dan mengejar cita-cita itu, tapi gue memutuskan untuk bermain aman. Padahal cita-cita gue sendiri bukan suatu hal yang terlalu mengkhawatirkan apabila dijadikan pekerjaan full time, tapi memang ada prioritas lain yang gue rasa lebih penting dari sekedar hasrat untuk mengejar cita-cita. Hm, mungkin bisa dibilang gue bukan big risk taker kali ya, makanya gue lebih memilih untuk menunggu sampai settled dan kebutuhan akan pemenuhan keinginan/cita-cita gue tercapai.

Ngomongin tentang passion atau cita-cita yang akan diraih versus kebutuhan akan uang, pasti nggak ada habisnya dan akan seru untuk dibahas lama. Sayangnya, gue nggak mau ngomong panjang lebar tentang ini. Semua kembali ke diri lo, karena toh ini hidup lo, bukan gue, tapi selagi gue bisa berbagi pikiran dan pendapat, dengan senang hati tentu akan gue lakukan. Kalau di usia muda, atau sebagai anak muda, lo udah bisa bilang bahwa ‘This is my passion’ maka kemungkinan besarnya adalah lo nggak akan mau coba hal lain yang bisa membawa lo menjadi pribadi yang lebih baik, berwawasan lebih luas, dan lebih berpengalaman. Belum lagi kalau ternyata passion yang selalu lo sebut-sebut dan lo rencanakan untuk kejar tidak terlalu memberikan banyak penghasilan. Tentu bukan masalah besar sebenarnya kalau lo bisa menikmatinya, tapi akan jadi masalah besar ketika diri lo nggak ada puasnya, hidup di daerah perkotaan (apalagi yang metropolitan), dan ketika diri lo sadar bahwa segala sesuatu di dunia butuh uang (ditambah fakta bahwa makin hari harga kebutuhan semakin mahal, bukannya semakin murah).

Sama seperti ketika lo belum tahu apa passion lo, daripada membuang waktu dan HANYA mempelajari atau merasakan berbagai hal baru yang belum pernah dialami sebelumnya, lebih baik kalau lo lakukan semua yang bisa lo lakukan di saat itu SAMBIL tetap mencari tahu jati diri dan apa yang lo sukai di sisa waktu lo dalam hari itu. Kenapa? Karena waktu nggak bisa diulang, dan nggak bisa ditambah kurang seenaknya. Lebih baik kalau sambil mencari apa yang lo sukai, lo melakukan kegiatan yang sebenarnya memang nggak lo sukai, tapi paling tidak bisa memberikan lo penghasilan dan sedikit kebebasan untuk lebih leluasa dalam menggunakan uang yang dihasilkan diri sendiri (penggunaannya akan lebih baik jika dipakai untuk hal-hal berguna, namun semuanya kembali ke diri lo masing-masing).

Sebenarnya daripada menyebut kata passion, gue lebih suka menyebutnya sebagai desire. Kenapa? Karena menurut gue pribadi, passion adalah satu-satunya hal yang lo sukai dan nggak akan pernah jadi hal yang membosankan untuk dilakukan sepanjang hidup lo. Belum lagi ditambah kenyataan bahwa kata passion ini seolah mengharuskan setiap orang untuk mengejar dan meraihnya, kemudian menjadi sukses dalam hal itu, padahal tidak semua orang ditakdirkan ke arah sana (kalau lo nggak percaya takdir, mungkin alternatifnya bisa menjadi nggak semua orang punya kesempatan ke arah sana) nggak peduli seberapa kerasnya mereka berusaha. Kalau desire, menurut gue artinya lebih manusiawi dan realistis karena desire ini bisa berupa keinginan atau hasrat untuk melakukan apa yang disukai tanpa harus memaksakan keadaan, dan desire lo bisa berupa banyak hal, nggak cuma satu, yang mana tentunya lebih rasional jika disandingkan dengan kepribadian manusia yang selalu berubah seiring berjalannya waktu. Kalau bosan atau ada hal yang lebih menarik perhatian, lo bisa ganti haluan. Lebih fleksibel, kan?

Terlepas dari persoalan tentang passion atau kebutuhan atau cita-cita, menurut gue penting untuk bermimpi dan mengejar keinginan sambil menyeimbangkan kebutuhan. Apabila keinginan untuk mengejar passion lo lebih besar, paling tidak jangan korbankan kebutuhan diri lo atau keluarga yang bergantung pada diri lo, karena hidup ini tidak seharusnya dijalankan dengan egois selamanya. Ada kalanya egois itu bagus dan lebih baik dilakukan, tapi tentu lo harus tahu situasi dan kondisinya. Nah, apabila keinginan lo untuk memenuhi kebutuhan lebih besar, tolong tetap ingat apa yang menjadi cita-cita atau passion lo, sehingga lo punya alasan untuk  keluar dari zona nyaman dan tetap mengejar apa yang lo cita-citakan atau mimpikan. Harap punya keseimbangan antara kebutuhan dan keinginan, dan yang terutama pastikan lo tahu apa prioritas lo.

Happy Thursday and have a nice day #YoungsterCPB!

Written with love,

Leave a Reply