Movies & Drama Review

#MovieReview – Eat. Pray. Love.

Anyone romcom lovers haven’t watched “Eat. Pray. Love.”  movie?

From the title, I didn’t expect this movie to be so relatable with my life. It perfectly captured what I want from this life, my life.

Pertama kali nonton film ini terutama di bagian awal, gue cukup tersentuh dan nangis. Without spoiling any scene from the movie, the beginning of it was very touching. Gue nggak akan kebayang gimana rasanya meghadapi situasi yang dihadapi sama Liz, tokoh utama film ini.

Secara garis besar, film ini menceritakan tentang Liz yang merasa perlu menemukan ‘dirinya’ karena di balik semua kesuksesan dan ‘kebahagiaan’ dalam hidupnya seperti yang dikatakan orang-orang, Liz merasa dirinya kosong. Isinya hampa.

Dari awal sampai akhir film, gue dibawa keliling beberapa tempat, mulai dari tempat awal Liz berada yaitu Amerika, kemudian berlanjut ke tempat pertama yang membuat Liz menemukan bahwa makanan yang dinikmati secara sadar tanpa peduli akan menjadi gendut memang mampu membuatnya bahagia luar dan dalam yaitu Italy, tempat kedua yang mampu membuat Liz percaya dengan adanya Tuhan, pentingnya untuk berdoa bagi jasmani dan rohaninya, dan membuat Liz memaafkan dirinya dan masa lalunya yang kelam yaitu India, dan tempat ketiga yang membuat Liz percaya dengan adanya cinta sejati yaitu Bali, Indonesia. Yep, you are right. The beach island in our beloved country Indonesia, Bali. Whoa, how I love everything displayed in this movie especially scenes that took part in Bali. It shows how calm and peaceful Bali as a province. Or maybe island?

This movie didn’t eventually show you how to find your true self, but this movie will show you what are the important things to discover to find your inner, true self. Gue belajar pentingnya balance dalam hal apapun di hidup ini melalui film ini, padahal film-nya sendiri dikemas dengan genre romcom, bukan fokus tentang hidup atau self-development.

Dari film ini gue belajar kalau makan makanan yang biasa aja bahkan sampai yang enak sekalipun, akan terasa biasa aja dan nggak menyenangkan kalau nggak dinikmati secara sadar. Yang dimaksud dengan sadar di sini adalah pikiran kita. You have to really be present with your presence, with your surroundings, and with your own food. Taste it. Savor it. Enjoy it. Forget about all the problems and the after effect which many girls concern about, getting fat. Even when you are fat and you have sex, your partner will not cast you out from the room, right?

Dari film ini gue belajar kalau percaya keberadaan Tuhan itu perlu adanya. Mungkin, kalau memang masih terasa sulit untuk menerima keberadaan Tuhan yang jelas memang tidak kita ketahui wujud dan rupanya, kita bisa belajar untuk percaya kepada semesta, bahwa memang ada hal-hal tertentu yang sudah digariskan untuk kita lalui. Ada hal-hal di luar kendali kita yang mampu membawa kita ke berbagai hal tak terduga, entah itu baik atau buruk, namun pastinya menjadikan kita sebagai pribadi yang lebih baik –well, hopefully. Film ini memang tidak serta merta menunjukkan seperti apa Tuhan atau seperti apa keberadaan Tuhan, tapi film ini mengajarkan untuk memiliki iman akan sesuatu yang tidak terlihat namun nyata kuasanya melalui berdoa dan meditasi. This is another reason why I love this movie. This movie tells exactly how peaceful meditation is. We can use meditation to calm ourselves, or to pray to Him, or the universe. Not only it is peaceful because we learn to be present and control ourselves, but we learn to release our stress, anxiety, and learn the art of letting go. Most of my interest towards life, self-growth, meditation or wellness, and letting things go come from this movie.

Terakhir, dari film ini gue juga belajar kalau cinta itu bisa datang dalam berbagai wujud. Yep, film ini secara kasat mata memang menggambarkan ‘cinta’ dengan mempertemukan Liz dan Felipe, but this movie also shows me how love is created by giving to others. Ah, remembering this scene really warms my heart. Sebagian cinta memang harus dicari, tapi sebagian lagi akan datang dengan sendirinya. Sebagian cinta memang terasa manis dan menghangatkan saat kita yang menerima, tapi sebagian cinta juga terasa manis ketika kita mau berusaha lebih dan memberi.

Happy watching if you haven’t, or happy apply this new learns into your daily life if you watched already.

Happiness is the consequence of personal effort. You fight for it, strive for it, insist upon it, and sometimes even travel around the world looking for it.

Eat. Pray. Love.

Written with so much care,

Leave a Reply