Self Wellness

Manusia tanpa kemanusiaan

Di zaman yang serba canggih ini, sebagian besar manusia hidup berdampingan, bersisian, dan beriringan dengan teknologi. Hanya beberapa persen kecil saja yang hidup tanpa teknologi terkini. Televisi, ponsel, komputer, laptop, game konsol, dan masih banyak lagi.

Semakin ke sini, sebenarnya manusia menjadi semakin pintar. Bukan hanya dari sisi akademis, tapi juga dari sisi sosial, teknologi, kinestetik, daaaaaan lain-lain. Saking pintarnya, kadang ada beberapa orang yang nggak bisa terlihat kepintarannya, terutama dari sisi sosial, atau kerennya disebut kemanusiaan.

Kebakaran, selfie. Memberi bantuan, selfie. Kunjungan ke tempat bencana alam, selfie. Ada yang kejambretan, di-video-in. Ada yang tabrakan, di-video-in. Ada yang butuh bantuan, di-cuek-in. Itu hanya beberapa yang saya tahu. Lebih dari itu? Saya yakin masih sangat banyak. Kamu aja deh, yang sebutin sendiri. Terserah seperti apa menurut kamu kemanusiaan itu.

Entah apa yang dipikirkan oleh orang-orang yang tak memiliki rasa kemanusiaan ini. Mungkin, mereka yang selfie disaat kebakaran terjadi di rumah tetangganya, atau mereka yang dengan sengaja datang jauh-jauh mengunjungi lokasi bencana alam hanya untuk selfie (contoh paling terbaru : tsunami di Banten), ingin terlihat update dan keren disaat yang bersamaan karena ada di lokasi kejadian. Tentunya, diri mereka yang ada di dalam bingkai foto yang tersebar di media sosial-lah yang menjadikan foto itu (atau mungkin diri mereka sendiri) terlihat ‘keren’. Mungkin, mereka yang hanya bisa merekam video disaat ada yang sedang tarik-tarikan tas saat penjambretan terjadi, atau disaat ada yang tabrakan di jalan raya, menginginkan atau meyakinkan diri mereka sendiri bahwa setelah videonya diupload ke dunia maya, video itu atau diri mereka sendiri akan viral. Tentunya itu akan menguntungkan, bukan, untuk menjadi terkenal semudah itu? Lebih menguntungkan dibandingkan memberikan pertolongan lebih dulu. Mungkin, mereka yang cuek disaat mereka jelas-jelas melihat ada yang sedang membutuhkan bantuan, berpikir bahwa ‘ah, nanti juga ada yang tolong’, disaat mungkin saja pertolongan mereka-lah yang dapat membantu orang yang membutuhkan pertolongan tersebut.

Ada sebuah riset yang dilakukan dan diceritakan oleh Malcolm Gladwell dalam bukunya yang berjudul ‘The Tipping Point’. Dalam bukunya tersebut, Malcolm menceritakan bahwa ada seorang gadis yang diperkosa dan berakhir meninggal di pinggir jalan perumahan. Pada saat gadis itu sedang mengalami hal buruk tersebut dan membutuhkan bantuan orang lain, ada lebih dari 10 orang yang mendengar teriakan gadis tersebut dan mengintip dari jendela rumah mereka masing-masing. Lantas, kenapa gadis tersebut tetap meninggal, disaat ada lebih dari 10 orang yang melihat kejadian tersebut? Karena, semua orang yang mendengar teriakan gadis tersebut dan melihat kejadiannya berpikir bahwa ‘nanti pasti akan ada yang menghubungi 911’, mengakibatkan tragedi itu selesai tanpa ada yang benar-benar menghubungi nomor darurat. Jika saja pada saat itu ada salah satu dari mereka yang menghubungi nomor darurat, mungkin nyawa gadis itu masih bisa diselamatkan.

Secara tidak sadar, hidup dengan penuh teknologi canggih membuat kita bergantung sepenuhnya pada tanggapan orang lain, sehingga kita lupa dengan apa yang seharusnya kita pedulikan dan utamakan. Selfie dengan latar belakang hal menyedihkan, supaya dianggap berempati. Merekam video tentang hal-hal menegangkan, penuh dengan kepanikan, musibah, atau hal-hal lain yang seharusnya tidak ada yang terpikir untuk merekamnya menjadi sebuah video, supaya dianggap cekatan dan up-to-date. Cuek dan enggan melakukan atau memberi pertolongan dengan anggapan akan ada orang yang menolong, supaya tidak dianggap pahlawan kesiangan dan tidak terlibat terlalu jauh dengan masalah itu. Pada akhirnya, semua selalu tentang tanggapan orang. Apakah ini efek dari hidup di zaman canggih penuh teknologi? Apakah rasa kemanusiaan itu benar-benar hilang dari diri sebagian besar manusia di muka bumi ini, dengan harapan tidak ada tanggapan buruk dari ‘luar’?

Mereka yang selfie di lokasi kejadian bencana adalah orang-orang yang tidak tahu rasanya kehilangan, baik materi ataupun pribadi. Mereka yang merekam video suatu musibah dan tidak berbuat apa-apa adalah orang-orang yang tidak tahu rasanya kepanikan dan kebutuhan pertolongan secepat mungkin. Mereka yang cuek enggan membantu adalah orang-orang yang selalu merasa aman dengan kehadiran orang lain, tanpa mereka pernah berpikir tentang diri mereka sendiri jika ada di posisi yang sama dengan korban atau apa yang dibutuhkan orang lain.

Manusia tanpa kemanusiaan bukanlah apa-apa. Manusia tanpa kemanusiaan hanyalah sampah dari segala jenis sampah yang ada di dunia. Kemanusiaan bukan tentang ‘terlihat’ ada di tempat bencana atau lokasi kejadian suatu musibah. Kemanusiaan bukan tentang ‘memperlihatkan’ hal buruk yang terjadi kepada khalayak orang. Kemanusiaan bukan tentang ‘menunggu’ orang yang tepat untuk datang dan menolong. Kemanusiaan itu tentang kita. Tentang diri kita sendiri, jika kita memang punya hati nurani.

Dunia boleh penuh dengan teknologi canggih dan terkini, tapi manusianya tetap harus ingat bahwa ada langit di atas langit, dan ada kolong di bawah kolong. Setiap detik kita bernafas dan berkedip, ada ratusan, ribuan, bahkan jutaan orang di luar sana yang tidak bisa makan, bernafas, berjalan, melihat, mendengar, berbicara, berdiri, bangkit dari baringnya. Ada banyak orang yang membutuhkan pertolongan kita setiap detiknya, yang seharusnya dapat ditolong dengan menggunakan waktu yang kita gunakan untuk memberikan ‘tontonan ke dunia maya’.

Kemanusiaan adalah hal penting di dalam hidup setiap manusia. Itu yang membuat manusia ‘hidup’ sebagai manusia seutuhnya dan berguna bagi sesama. Itu juga yang membedakan manusia dengan binatang. Kemanusiaan adalah tentang berempati dan melakukannya dengan sepenuh hati, cepat, dan tanpa pamrih dalam bentuk apapun (uang, kebahagiaan, kelancaran pekerjaan, popularitas, dll), yang sayangnya saat ini telah luntur dengan seiring berjalannya waktu.

Manusia tanpa kemanusiaan sama saja dengan binatang. Jika kamu bukan binatang dan mengaku masih memiliki rasa kemanusiaan, maka tunjukkan dengan tindakan dan perbuatan yang nyata, bukan hanya dengan tampilan bergerak yang ada di layar ponsel saja. Kemanusiaan itu ada untuk dipraktikan, bukan untuk sekedar jadi ilmu yang terkubur oleh teknologi di dalam otak.

Turut berduka cita bagi para korban tsunami Banten dan Lampung. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan, dan semoga orang-orang jauh yang datang berkunjung tidak hanya pamer di dunia maya tetapi juga turut membantu di dunia nyata.

With love,

Leave a Reply