Self Uncategorized Wellness

lingkungan pertemanan lo adalah cerminan diri sendiri

Wah, udah lama banget rasanya nggak nulis. Nggak usah ditanya kenapanya ya, emang gue nya males aja, dan lebih banyak spend time buat hal-hal lain. Tapi nih, mumpung hari ini lagi pengen nulis, gue pengen share tentang pertemanan alias orang-orang yang ada di sekeliling lo, dan kenapa gue sebut teman-teman lo adalah cerminan diri lo sendiri.

Ceritanya dimulai ketika beberapa hari lalu, gue punya suatu masalah yang gue udah bingung banget gimana cara menyelesaikannya. Dari pilihan yang ada dan dari pilihan yang gue pilih sendiri, gue merasa ragu. Ragu karena gue nggak tahu kenapa gue pilih itu. Gue butuh orang yang bisa bantu gue kasih alasannya, tapi nggak ada yang bisa. Sampai akhirnya gue kepikiran satu orang, yaitu guru les bahasa Mandarin gue. Tanpa pikir panjang, gue tanya apa boleh diskusi, dan setelah kita diskusi, setelah dia kasih tau gue jawaban yang selama ini gue cari-cari, yang bisa dia jelasin dengan rinci dan detail dan dengan sabar, gue tersadar.

Detik itu juga, ketika gue akhirnya tahu alasan gue memilih pilihan gue saat itu, dan kenapa masih ada keraguan dalam diri gue sebelum gue bertanya pada beliau, gue merasakan rasa terima kasih dan syukur yang bener-bener besar banget, yang rasanya seperti menghujani hati gue. Iya, gue sebersyukur itu bisa kenal dia, dan akhirnya mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang gue pertanyakan selama beberapa bulan terakhir. Lalu, dari rasa syukur itu, gue mulai menelisik balik ke belakang, melihat sejarah bagaimana awalnya kita bertemu, dan kenapa hubungan kami bisa berlanjut.

Di tempat gue belajar bahasa Mandarin, gue selalu pilih guru native supaya bisa lancar conversation. Tapi suatu hari, semua guru native-nya full booked. Mau nggak mau, gue harus kelas dengan guru lokal. Dari beberapa pilihan yang ada, gue entah kenapa tertarik dengan nama dan foto profil guru gue yang satu ini. Okelah, pikir gue saat itu, nggak ada salahnya mencoba. Keluar dari comfort zone gue untuk kenalan lagi sama orang baru, walaupun gue pemalu abis sama orang yang asing. Kelas pertama sama dia, oke juga nih cara ngajarnya, besok lagi ah. Kelas kedua, makin seru dan suka sama metode belajarnya. Kelas ketiga, penasaran banget nih sama sosok gurunya, sampai akhirnya berlanjut ke kelas-kelas selanjutnya.

One day, she was absent. Entah kenapa, tapi akhirnya sejak hari itu, gue udah nggak pernah kelas sama dia lagi, dan kembali kelas dengan guru native. Singkat cerita, udah lewat beberapa bulan, Tuhan dan Universe mempertemukan gue lagi dengan dia. Sejak pertemuan itu, gue sama dia akhirnya ngatur waktu supaya bisa tiap minggu ketemu, belajar, dan sharing dengan dia. Tapi jujur, gue masih penasaran akan ‘kenapa’ gue seneng banget belajar sama dia, sampai momen kemarin itu tiba. Momen ketika dia menjawab pertanyaan gue, dan momen itu jadi ‘aha’ momen buat gue.

Kalau lo tanya gue dulu, kenapa suka belajar sama guru ini, maka jawaban gue pasti “karena gue suka metode ngajarnya, suka juga sama materi dan cerita-cerita yang dijadiin bahan ajarnya”. Beda cerita kalau lo tanya gue sekarang, maka jawabannya adalah “karena gue suka pola pikirnya, wisdom-nya, pengalamannya dia, dan energinya. Semuanya itu terpancar jelas pada saat dia ngajar, bahkan sampai ke materi atau bahan ajar yang dia ajarin ke gue.”

Kalau gue kilas balik jauh ke belakang, gue berpikir bahwa saat ini, gue sama sekali nggak ada penyesalan atas semua masalah yang gue lalui pas lebih kecil kemarin, masalah-masalah yang merenggut masa muda gue begitu saja. Nggak, sama sekali nggak ada penyesalan itu. Kenapa? Karena kalau bukan karena masalah-masalah itu tadi, gue nggak akan jadi kayak sekarang, seorang Aini dengan pola pikir, wisdom, frekuensi, dan energi yang seperti ini. Kalau pola pikir, wisdom, frekuensi, dan energi gue nggak kayak gini, gue nggak akan bisa ketemu dan ‘click’ sama dia.

Kenapa gue sebut di awal bahwa pertemanan atau orang-orang di sekeliling lo adalah cerminan diri lo sendiri? Karena masing-masing dari kita, punya frekuensi dan energinya masing-masing, tergantung dari apa yang dikonsumsi sehari-hari. Lo sukanya membaca sci-fi, lalu pola pikir dan mindset lo akan menjadi mindset yang berpikir jauh ke depan, selalu melihat posibilitas walaupun caranya terdengar gila sekalipun, maka cepat atau lambat lo akan menarik orang-orang yang satu frekuensi dan energi dengan lo untuk berteman.

Atau, kasus nyata kayak gue misalnya. Gue orang yang suka deep thinking, memikirkan soal hidup dan segala esensinya, misterinya. Gue sering nggak nyambung dengan teman-teman sebaya karena mereka menganggap gue terlalu serius dan ‘dewasa’, tapi selain teman-teman sebaya, gue merasa gue cocok dan nyambung banget dengan orang-orang dewasa dan tua, yang sudah melalui asin-manis-asam-pahit-nya hidup, seolah kita bisa ngobrolin hal yang sama tanpa ngerasa nggak cocok. Then, it happened. Banyak orang lebih tua dari gue, lebih dewasa, atau yang seumuran tapi pola pikirnya cocok juga, mulai berkumpul di sekeliling gue.

Gue termasuk orang yang gampang banget ngerasa kesepian. Simply karena gue dikelilingi orang-orang yang like-minded people, mindsetnya mirip-mirip lah. Mau nggak mau, gue harus menerima situasi orang-orang yang seperti itu, karena pasti masing-masing dari mereka punya kesibukannya masing-masing. Well, sekarang gue bisa ngerti sampai sejauh itu. Dulu? Boro-boro. Rasa kesepian yang gue rasain cuma karena gue jarang ngobrol sama orang lain (karena pada saat itu emang belum ketemu yang pola pikirnya sama dan satu frekuensi), dan juga karena takut gue nggak punya temen. Secara, gue beda banget dari teman-teman sebaya.

Dari tulisan ini, pesan yang mau gue sampaikan adalah coba audit pertemanan lo. Kalau lo ngerasa hidup lo gitu-gitu aja, diri lo juga, nggak ada peningkatan apapun, mungkin karena pengaruh teman-teman lo, karena lingkungan itu punya pengaruh yang kuat dan besar banget buat masing-masing kita. Kalau lo ngerasa hidup lo cuma hura-hura, buang duit, nah coba lihat sekeliling lo. Teman-teman lo begitu nggak? Sama juga nih, kalau lo mikir, kok teman-teman gue negative thinking semua ya, pesimis semua, dll. Nah, coba berkaca ke diri sendiri. Lo pribadi kayak gitu nggak, gampang negative thinking dan pesimis-an?

Lo bisa audit pertemanan lo dan menggantinya dengan yang jauh lebih berkualitas. Caranya gimana? Ubah diri lo sendiri dulu. Ketika lo sudah berubah menjadi orang yang lo inginkan untuk dijadikan teman, diri lo akan menciptakan suatu frekuensi yang lo sendiri nggak tahu bentuknya, nggak tahu cara kerjanya, namun perlahan tapi pasti, frekuensi dari diri lo itu bisa menarik orang-orang yang karakter atau pola pikir-nya mirip dengan lo. Lo pengen punya temen yang perhatian? Kalau gitu, ubah dulu diri lo jadi orang yang perhatian. Lo pengen punya temen yang suportif? Kalau gitu, ubah dulu diri lo jadi orang yang suportif.

Selain mengubah diri, lo juga bisa perlahan-lahan menjauh dari teman-teman yang tidak sesuai dengan tipe teman yang lo inginkan. Semua orang itu berubah, termasuk lo. Nggak cuma penampilan yang berubah, tapi juga pola pikir dan gaya hidup. Kalau lo udah kepikiran untuk mengaudit pertemanan supaya bisa dapetin kualitas pertemanan yang lebih baik, mungkin itu artinya lo sudah dewasa, lebih dewasa dari teman-teman sebaya lo. Bukan artinya lo jadi melupakan teman-teman lo yang sekarang, tapi lo berevolusi, mencari teman yang bisa memberikan dampak positif ke hidup lo, nggak cuma dampak senang-senang atau hura-hura aja.

Jadilah orang dengan kepribadian yang mirip atau bahkan sama dengan kepribadian orang yang ingin lo jadikan sebagai teman. Kenapa? Selain karena alasan frekuensi tadi, alasan lainnya adalah karena lo nggak bisa bergantung sama orang lain. Kalau nggak ada orang yang sesuai dengan apa yang ada di dalam bayangan lo, trus apa artinya lo jadi nggak mau berteman dan bersosialisasi? Hidup nggak selurus itu. Lagipula, lo kan manusia, dan yang namanya manusia itu artinya makhluk sosial. Makhluk sosial, suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, memang butuh bersosialiasi, berteman, bertetangga. Entah sama atau tidak kepribadiannya seperti yang lo bayangkan, lo tetap harus menjadi teman terbaik diri lo sendiri, supaya lo nggak bergantung sama orang lain sepenuhnya.

Pesan lain yang juga mau gue sampaikan adalah nggak perlu takut kesepian, karena suatu hari nanti, cepat atau lambat, lo pasti akan menemukan orang yang cocok dan sefrekuensi dengan lo. Percaya sama gue. Cara mencegah kesepian di saat lo belum menemukan orang yang satu frekuensi gimana? Again, be your own self best friend’s. Jadilah teman terbaik diri lo sendiri.

Apapun yang udah terjadi, ya biarlah terjadi. Lepasin, relain. Toh, nggak ada hal apapun yang bisa lo ubah kan dari masa lalu? Jadi, lihat ke depan, dan melangkah maju. Move on dari teman-teman lama lo, mulai keluar dari comfort zone untuk kenalan dengan orang baru. Pelajaran yang bisa lo ambil dari cerita gue di awal tadi adalah, kalau aja dulu gue nggak memberanikan diri untuk coba kelas dengan guru lokal dengan alasan gue pemalu dan nggak mau kenalan sama orang baru, well then, I won’t be here now, writing this post for you. Akhir yang sudah sangat jelas kalau gue nggak keluar dari comfort zone gue saat itu adalah gue yang nggak kenal dengan beliau.

Ada satu pesan yang nyantol di kepala gue, lengket banget, dan ini adalah ucapan beliau, guru bahasa Mandarin gue. Dia bilang, “nggak perlu punya temen banyak-banyak. Sedikit, bisa dihitung jari saja, udah cukup, selama hubungan kalian berkualitas. Saya punya ribuan followers di Instagram dan Facebook, tapi yang betul-betul mau tanya kabar saya, ucapin selamat ulang tahun tanpa saya tulis di status, hanya hitungan jari. Dan itu nggak apa-apa. Mereka yang sedikit tapi berkualitas, lebih berharga ketimbang ribuan followers di Instagram dan Facebook. Sekarang, kamu pikir aja, lebih mau menghabiskan banyak waktu di kehidupan nyata dengan teman-teman yang nyata juga, atau lebih banyak menghabiskan waktu di sosial media, dengan teman-teman yang kualitas pertemanannya seadanya, asal basa-basi saja?”

Sekarang, tahu kan apa yang harus lo lakukan? Mulai aja dari lingkaran terkecil lo, lalu perhatikan satu per satu teman lo. Lakukan yang namanya audit pertemanan tadi, apakah tipe orang seperti A adalah orang yang gue ingin capai suatu hari nanti? Adakah hal baik darinya yang bisa gue pertahankan? Memang terkesan egois, tapi itulah hidup. Lo harus menolong diri lo sendiri dulu, karena nggak akan ada orang yang mau menolong lo. Mereka semua sibuk dengan masalahnya masing-masing. Lagipula, kalau lo ingin menolong orang lain, lo tetap harus menolong diri sendiri dulu pada akhirnya, seperti ilustrasi pesawat jatuh, di antara ibu dan anak, sang ibu harus mengenakan masker pertama kali, menolong dirinya sendiri dulu, sebelum memakaikan masker ke anaknya. Kalau diri sendirinya sudah tumbang, bagaimana mau menolong orang lain?

Semogat tulisan gue bermanfaat, dan semoga ada pelajaran yang bisa diambil ya. Sampai ketemu di tulisan-tulisan lainnya! 🙂 Have a nice day!

With love,

Photo by Felix Rostig on Unsplash

Leave a Reply