Self Wellness

lebih lambat.

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman yang bercerita bahwa teman-teman seusianya sudah hampir semuanya lulus kuliah.

Pernah juga, ada yang bercerita bahwa teman-teman dan bahkan saudara-saudaranya yang seusia, sudah hampir semuanya punya kekasih.

Kalau mau terus dibandingkan antara diri sendiri dengan orang lain, pasti tidak akan ada habisnya.

Teman-teman sebaya, sudah hampir semuanya punya mobil sendiri.

Teman-teman sebaya, sudah hampir semuanya paling tidak jalan-jalan keluar negeri sekali dalam setahun.

Teman-teman sebaya, sudah hampir semuanya punya rumah dan menikah.

Semua hal yang aku sebutkan di atas bisa terus berlanjut ke bawah, membentuk rentetan kata dan perbandingan yang tidak terlihat ujungnya.

Bagi aku sendiri, perbandingan itu dilihat murni dari segi personal.

Teman-teman sebayaku, kebanyakan sedang berkuliah, sedangkan saat ini aku bekerja.

Teman-teman sebayaku, kebanyakan menggunakan barang branded, mulai dari gadget, aksesoris, tas, pakaian, sepatu, dan masih banyak lagi.

Teman-teman sebayaku, kebanyakan seringkali berbelanja atau menghabiskan waktunya dengan bersantai di cafe.

Mungkin, perbandingan-perbandingan yang aku sebutkan tadi tidak harus dengan teman sebaya. Bisa saja dengan rekan satu kantor walau usianya terpaut cukup jauh. Atau, bisa saja orang lain yang sama sekali tidak dikenal.

Rumput tetangga akan selalu lebih hijau. Begitu katanya, padahal entah kata siapa. Tapi, apa iya?

Nyatanya, ini bukan tentang siapa yang rumputnya lebih hijau, atau siapa yang hidupnya lebih beruntung. Hidup ini tentang waktu-Nya yang memang tepat untuk kita, walau kita menganggapnya tidak tepat. Hidup ini tentang kita yang siap mental atau tidak, tanpa kita sadari, atau akui.

Teman-teman sebaya sudah hampir semuanya lulus kuliah. Oke, hal ini memang terkesan agak sedikit mengintimidasi. Tapi, kenapa? Kenapa kita sedikit lebih lambat? Apakah kita bodoh? Tidak. Semua manusia tidak ada yang bodoh, hanya saja kadang kadar kemalasannya yang berbeda di setiap orang. Mungkin saja, saat ini kamu tidak bisa lulus bersama teman-temanmu yang lain karena ada masalah keuangan yang menyebabkan kamu harus cuti satu atau dua semester (atau lebih). Mungkin saja, saat ini konsentrasimu terpecah karena masalah keluarga di rumah, atau masalah hati yang belakangan terus mengganggu.

Entah apa masalahmu saat ini, bahkan di saat kita tidak melihat ada masalah dengan diri kita, kita hanya perlu waktu yang benar-benar tepat. Bagi kita, bukan bagi orang lain (sebaya ataupun tidak). Lulus lebih cepat memang terlihat lebih baik, tapi apa iya kenyataannya seperti itu?

Lihat sisi positifnya. Sisi negatif hanya membuat kita merasa lebih buruk, jadi abaikan saja. Dengan lulus lebih lambat dari yang lain, kita bisa belajar untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik (lebih rajin apabila alasan keterlambatannya karena kita yang malas belajar, memiliki lebih banyak pengalaman di dunia kerja dan di dunia nyata dibanding teman-teman yang fresh graduate saat ini karena sebelumnya telah bekerja dan mencoba berbagai pekerjaan yang kehidupannya sangat berbeda dengan kehidupan perkuliahan, dan masih banyak lagi). Dengan lulus lebih lambat, kita bisa menikmati hari-hari sebagai mahasiswa yang tidak akan mungkin pernah bisa terulang lagi setelah menginjakkan kaki di dunia kerja. Dengan lulus lebih lambat, kita bisa mencari informasi tentang dunia kerja lebih banyak.

Lulus kuliah, bukan hanya tentang ‘selesai belajar dan siap bekerja’. Lulus kuliah berarti siap bertanggung jawab atas diri kita sendiri, terlepas dari siapapun dan apapun jabatan atau kedudukan kamu saat kuliah. Saat masih kuliah, bila tidak cari kerja sampingan, berarti masih mengandalkan uang dari orang tua. Setelah lulus kuliah dan bekerja, seharusnya kita yang memberi untuk orang tua, dan menghidupi diri sendiri, bukannya tetap bergantung dengan kekayaan mereka.

Lulus kuliah berarti siap menghadapi segala rintangan dunia kerja yang sama sekali tidak sama dengan dunia perkuliahan, di mana ada dosen  atau kakak kelas pembimbing, teman-teman sebaya yang bisa saling memberi contekan, dan ada hal-hal kecil yang selalu dirindukan setiap harinya. Apa kamu yakin, saat ini mental kamu cukup siap untuk menghadapi semua itu secara tiba-tiba? Paling tidak, dengan keterlambatanmu untuk lulus saat ini, kamu dapat memanfaatkan waktunya untuk melakukan hal-hal berguna yang lain. Kamu memiliki banyak sumber terpercaya, yaitu teman-temanmu yang telah bekerja lebih dulu, untuk menggali informasi mengenai dunia kerja dan apa yang menjadi suatu perubahan dalam diri kita dengan segala perubahan lingkungan itu. Mungkin, keterlambatanmu saat ini berfungsi untuk mempersiapkan mentalmu agar nantinya lebih kuat dan siap menghadapi dunia yang sesungguhnya.

Teman-teman sebaya, atau saudara seusia, sudah punya kekasih, sedangkan kamu belum. Ya, tak apa. Waktumu berbeda dengan waktu mereka. Dengan sedikit lebih lambat dari mereka, kamu memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengenal dirimu lebih jauh lagi, mengenal banyak orang-orang baru yang diharapkan lebih baik di segala aspek dari pasangan-pasangan atau gebetan-gebetan sebelumnya, menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluarga atau teman-teman, meningkatkan kemampuan diri di berbagai bidang, mengunjungi tempat-tempat baru di berbagai kota dan negara, serta mempersiapkan diri untuk menjadi lebih baik bagi pasangannya kelak.

Memiliki pasangan, atau pacaran, bukan hanya tentang ‘gue punya pacar dan gue bukan jomblo’, tetapi ini tentang pengenalan masing-masing insan lebih jauh dan lebih dalam lagi, untuk mempersiapkan diri di jenjang berikutnya yang tentu akan lebih serius dan rumit. Masa-masa pacaran (jika memang dibawa serius) adalah masa-masa kritis dalam membangun fondasi kedua insan berbeda untuk disatukan dalam ikatan pernikahan sehidup semati nantinya. Jadi, tidak perlu iri atau khawatir. Justru, pergunakan waktumu untuk memperbaiki diri lebih dan lebih lagi, sambil tetap membuka segala kemungkinan yang bisa saja terjadi sewaktu-waktu antara kamu dan pacar yang akan datang.

Kalau aku lanjutin dengan lebih banyak contoh, mungkin tulisan ini akan jadi seperti buku. Hehehe. Jadi, aku akhiri contohnya di sini.

Menjadi lebih lambat dari teman sebaya atau orang lain yang seusia atau bahkan lebih muda (meski tidak kenal) bukan berarti kamu lebih bodoh, kamu lebih buruk, kamu lebih jelek, kamu lebih jahat, dan sebagainya. Hentikan semua pikiran negatif terhadap diri kamu sendiri, karena itu hanya akan menjadikan kamu seperti itu di kenyataanya. Sadar atau tidak, hidup kita dipengaruhi oleh pikiran kita, jadi ketika kita berpikir negatif maka hidup kita pun akan menjadi negatif.

Ada banyak hal positif yang bisa dilihat dan dilakukan dengan menjadi lebih lambat dari teman atau orang lain yang seusia. Percayalah, Tuhan lebih kenal kamu daripada dirimu sendiri. Semesta lebih paham pikiran, perasaan, dan kehidupan kamu dari dirimu sendiri. Semua akan baik pada waktunya, karena memang segala sesuatunya memiliki waktunya masing-masing. Mungkin saat ini bukan waktumu untuk menjadi seperti mereka, karena masih ada banyak hal yang harus disiapkan. Mentalmu, akhlakmu, sikapmu, pikiranmu, keluargamu, teman-temanmu, dan yang paling penting adalah dirimu sendiri.

Sabar… Pelan-pelan. Tak usah terburu-buru. Belajar untuk cintai diri sendiri terlebih dahulu, kemudian belajar untuk melihat segala sesuatu dari sisi positif. Niscaya nantinya kamu akan merasa bahagia dan cukup dengan apa yang kamu miliki sekarang. Waktumu akan tiba jika sudah saatnya. Kapan waktunya? Entahlah. Tidak ada yang bisa menjawab. Bahkan peramal pun tidak bisa memberikan waktu yang pasti tepat. Maka, jangan dinantikan, tapi persiapkan diri sebaik mungkin.

Cheers! 🙂

Life is good only when you make it.
It is your choice, not other people’s, nor God’s.

Think positively, live passionately, love compassionately.

Everything has its own time. Be patient.

Love always, Your Mey Mey
signature

Leave a Reply