Movies & Drama Review Self Wellness

Kehilangan dan Harapan

Kesedihan atau rasa kehilangan seseorang, bisa jadi adalah harapan buat orang lain. Harapan untuk memulai lagi dari awal, harapan untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Semua orang nonton sesuatu pasti karena mencari sesuatu. Kesenangan, perasaan haru, atau apapun. Gue adalah seaeorang yang suka nonton hal-hal berbau romantis. Baca pun juga gitu.

Little did I know that all those feeling I thought as romantic, was actually a feeling of personal, and deep, and intimate. Gue nggak pernah tahu kalau yang selama ini gue kira sebagai romantis, ternyata adalah perasaan yang lebih bersifat personal, mendalam, dan intim.

Gue banyak nonton K-drama, dan kebanyakan genre yang gue tonton adalah romance. Di luar romance, gue suka nonton drama yang berbau kedokteran, ilmu hidup, atau keluarga. Saat gue nulis post ini, gue lagi nonton Doctor Romantic Teacher Kim season 2. Alasan awal gue nonton yang season 1 adalah karena rekomendasi orang. Gue kira, drama ini hanya berkisar tentang romantisme pasangan, dan dunia kedokteran.

Oh ho, how I was so wrong at that time. Betapa salahnya gue karena mikir kayak gitu.

Nggak, gue nggak mau ngereview drama. Bukan itu tujuan gue nulis post ini. Gue justru mau menyampaikan apa yang gue pelajari dari drama ini. Ini hanya salah satunya, dan ini adalah rasa empati dan tanggung jawab. That deep sentence in the beginning came out from the drama.

Dalam scene itu diceritakan bahwa ada seseorang yang brain-dead, atau lumpuh otak. Di saat bersamaan, ada orang lain, tahanan penjara karena telah membunuh 2 orang, yang juga sakit dan butuh ginjal. I think you can guess it to the end. That first person with brain-dead who has registered herself into organs donation, donate her organ, so the life prisoner could live a long life, hopefully, with a new kidney.

Pernah nggak kebayang, kalau rasa derita yang orang lain alamin, kesedihan yang mereka rasakan, adalah sesuatu yang bisa jadi adalah harapan baru untuk lo, atau suatu hal baik untuk lo appaun bentuknya?

Di dalam kehidupan sehari-hari, peran pendonor ini ada banyak sekali, nggak harus benar-benar seorang pendonor organ. Orang ini bisa saja adalah tentara atau polisi yang harus berjuang mati-matian, latihan pagi siang sore, untuk melindungi kita saat ada demo, atau perang. Orang-orang itu bisa saja dokter, perawat, petugas rumah sakit, yang semuanya membantu proses berlangsungnya sebuah pengobatan terhadap pasien sekarat. Sesimpel orang itu adalah petugas kebersihan di mall, jalanan, pintu-pintu air, kantor, di manapun, yang sayangnya seringkali terlupakan, padahal mereka adalah yang bekerja dengan letih lesu menjamin, membantu, menjaga kita semua agar terhindar dari lingkungan kotor atau banjir yang lebih parah karena pintu air yang tersumbat.

Banyak peran kecil yang dalam kehidupan sehari-hari sebenarnya sama berharganya dengan mereka yang punya peran besar dan ternama. Namun, di balik kata kewajiban dan tanggung jawab yang mereka emban, kita seolah-olah lupa untuk mengapresiasi, menghargai, menghormati, dan berterima kasih pada mereka.

Apapun tanggung jawab mereka, bagaimanapun hasil kerjanya, paling tidak lo bisa mengucapkan kata terima kasih. Terima kasih karena sudah berusaha. Terima kasih karena sudah membantu. Terima kasih karena sudah bertahan. Terima kasih karena sudah memberi. Terima kasih.

Mungkin, orang di kehidupan riil lo yang perannya serupa dengan si pendonor tadi adalah teman dekat, atau asisten rumah tangga, atau bapak driver ojol lo hari ini, atau literally siapapun. Sempatkan diri untuk bilang terima kasih pada mereka. Apresiasi mereka. Coba untuk ingat kerja keras dan kebaikan mereka paling tidak untuk hari ini. Tak apa jika tidak bisa diingat sepanjang hidup. Bukan lamanya waktu yang penting, tapi ketulusan hati lo.

Bisa juga, orang di kehidupan riil yang serupa dengan pendonor tersebut adalah diri lo sendiri. Lo kesulitan berjuang demi orang lain, agar orang lain mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Lo adalah orang yang baik. Tetap rendah hati meskipun lo sudah melakukan kebaikan. Tidak perlu berbangga diri karena apabila lo melakukan itu dengan tulus ikhlas, bahkan tanpa lo bangga dan bicarakan di mana-mana pun, orang akan tetap mengenali lo sebagai orang itu. Terakhir, terima kasih. Terima kasih karena telah mau berbaik hati untuk orang-orang di sekeliling lo. Nggak ada kata lain yang bisa gue tuliskan selain, gue salut sama lo. Terima kasih sudah bertahan.

Di dunia yang segala sesuatunya sudah bekerja dengan tidak semestinya, gue rasa kita perlu lebih banyak mengungkapkan rasa apresiasi, menghargai, atau rasa terima kasih, lebih sering pada orang lain. Biar kita ingat bahwa kita adalah mahluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa orang lain. Biar kita ingat bahwa dari lahir, hidup, bahkan sampai meninggal pun, kita butuh bantuan orang lain. Biar kita ingat bahwa sebagai sesama manusia, tidak ada yang menginginkan rasa ‘yang tidak enak’, tapi ada orang-orang yang mau merasakan ‘rasa yang tidak enak’ itu demi orang lain. Biar kita ingat bahwa sama seperti diri lo sendiri yang ingin dihargai dan diapresiasi, diri mereka pun juga ingin dihargai dan diapresiasi.

Tuhan itu adil. Nggak akan Dia ngebiarin orang yang berkorban, terus-menerus merasa sakit. Lo pasti akan merasa happy, walau hanya sekedar mendengar dan menerima kata terima kasih. Nggak akan Dia ngebiarin orang yang hidup enak & nyaman, terus-menerus berada di atas. Ada waktunya lo harus merendah dan mengakui bahwa lo menerima banyak bantuan dari orang lain, dan karenanya lo harus menghargai mereka.

Dari penonton setia RDTK S1-S2,

Leave a Reply