Self Uncategorized Wellness

K A S I H

Ini adalah versi bahasa Indonesia dari “Love”.

“Kita harus bisa mengasihi sesama.”

Ini adalah hal yang selalu saya usahakan untuk lakukan dalam kehidupan saya. Tidak mudah memang, tapi saya berusaha. Namun kadang  —entah saya yang mengasihi mereka terlalu dalam, atau saya memang seharusnya tidak menjadi orang yang berusaha untuk mengasihi sesama, saya merasa bahwa mengasihi sesama itu melelahkan. Katakanlah saya hanya peduli kepada mereka, bukan mengasihi layaknya saya mengasihi seseorang yang saya kenal sejak lama atau mungkin keluarga saya. Itu tetap menjadi hal yang melelahkan, peduli begitu dalamnya kepada orang lain yang bahkan sama sekali tidak memiliki hubungan apapun dengan anda. Hal itu melelahkan karena ada kalanya, saya hanya bisa mengasihani dan tidak bisa membantu. Bukannya tidak ingin, namun memang keadaan yang tidak memungkinkan. Hal itu juga melelahkan karena ada saja orang-orang yang tidak mengerti isi hatimu, niatmu, kepedulianmu, namun bisa mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan.

Ini adalah pengalaman pribadi saya.

Saya punya seorang teman yang beberapa tahun lalu memang pernah menjadi suatu bagian penting dalam hidup saya. Saat ini kami masih berteman, namun posisinya dalam hidup saya sekarang hanyalah sebagai seorang teman biasa, bukan lagi seseorang yang perannya penting. Kurang lebih dua atau tiga tahun yang lalu, saya mendengar kabar bahwa salah seorang tuanya sakit. Pada saat itu, saya masih bersekolah. Saya tidak mampu untuk meluangkan waktu menjenguk orang tuanya, ataupun membantu dalam segi apapun. Saya hanya seorang anak sekolahan biasa yang menghidupi diri sendiri saja sudah kesulitan. Saya peduli, namun saya tak mampu untuk melakukan apapun. Bahkan menanyakan kabarnya pun tidak bisa, karena saya sudah tidak begitu dekat lagi dengan teman saya tersebut. Saya hanya mengetahui kabarnya ketika saya dan teman saya tersebut bertemu ramai-ramai dengan teman-teman lain. Itupun kalau ia menceritakannya. Kalau tidak, tentu saya tidak tahu. Saya juga tidak pernah berani menanyakannya karena saya merasa, apapun pertanyaan saya dan jawabannya, saya tetap tidak bisa membantu. Jadi lebih baik saya diam.

Singkat cerita, beberapa bulan lalu saya mulai bekerja. Ketika saya sudah mulai bekerja, saya memutuskan untuk menanyakan kabarnya langsung melalui teman saya tersebut. Kali itu saya berani menanyakannya karena paling tidak, saya bisa menjenguknya dan memberinya sedikit dukungan atau penghiburan, walaupun saya yakin itu tetap tidak membantu dalam segi apapun. Setelah mengetahui kabar dan keberadaannya, saya datang menjenguk orang tuanya di rumahnya. Kedatangan saya diterima dengan baik, dan akhirnya kedatangan saya pun menjadi suatu kegiatan berulang selama beberapa kali. Kalau saya tidak salah ingat, mungkin sekitar tiga atau empat kali, sebelum saya berangkat ke luar kota, tempat saya bekerja selama beberapa bulan. Pertama kali, saya datang seorang diri sepulang kerja. Selanjutnya, saya selalu mengajak teman-teman, untuk meramaikan suasana. Teman-teman saya yang lain, yang juga adalah teman-temannya teman saya ini (pada intinya kami memiliki suatu lingkaran pertemanan yang sama), mengetahui kedatangan dan perhatian saya ke orang tuanya, namun mereka mengatakan suatu hal yang menurut saya tidak wajar. Salah seorang dari mereka mengira saya ingin merebut perhatian keluarganya untuk mengembalikan hubungan kami yang telah lama merenggang. Pemikiran seperti itu mungkin wajar secara duniawi, namun itu sangat tidak wajar secara nurani. Saya sangat amat mengerti mengapa ada orang yang berpikiran seperti itu, karena saya dan teman saya tersebut dulunya memang sempat dekat. Namun, tidak bisakah kita sebagai manusia yang memiliki empati dan hati nurani, berpikir secara positif dan tidak melulu mencari celah dari perbuatan dan niat baik seseorang? Hal ini membuat saya merasa bahwa apa yang saya lakukan adalah hal yang salah, walaupun jauh di dalam hati saya, saya tahu bahwa ini adalah suatu hal yang benar untuk dilakukan. Memberikan dukungan dan penghiburan kepada orang yang sedang sakit dan tidak bisa melakukan banyak hal seperti yang biasa dilakukan adalah hal yang sebenarnya sangat mereka butuhkan. Dukungan dan kasihlah yang mampu membuat mereka bertahan dan terus berjuang melawan penyakit mereka.

Hal lain yang membuat saya merasa lelah untuk mengasihi orang lain adalah ketika saya merasa sangat sedih saat saya mendengar kabar tidak mengenakkan dari orang yang saya pedulikan tersebut, namun tidak dapat berbuat apa-apa karena saya juga tidak mampu, meskipun orang tersebut tidak memiliki hubungan apa-apa dengan saya. Kami tidak berhubungan darah, kami bukan teman, kami bukan keluarga, atau bahkan kami tidak saling mengenal. Mengasihi orang lain memang penting dan baik untuk dilakukan, namun ketika mereka ada dalam sebuah masalah yang tidak dapat kita bantu, mengasihi atau bahkan hanya mempedulikan saja sudah menjadi hal yang sangat menyakitkan. Dan tentu saja itu melelahkan.

Apakah anda pernah mengalami hal seperti yang saya ceritakan di atas? Mengasihi seseorang, atau bahkan hanya mempedulikannya saja, namun tidak dapat berbuat apa-apa disaat anda tahu, mereka butuh dukungan atau pertolongan? Atau, ketika anda mengasihi atau mempedulikan seseorang, namun malah mendengar perkataan yang mempertanyakan niat dan tujuan anda melakukan hal tersebut —yang biasanya negatif? Melelahkan tidak, mengasihi sesama?

Jadi, apakah sebaiknya kita berhenti saja mengasihi sesama, dan hanya mengasihi diri kita sendiri? Menurut saya tidak perlu. Anda tidak perlu berhenti mengasihi atau mempedulikan sesama meski anda tidak dapat membantu. Anda tidak perlu berhenti mengasihi atau mempedulikan sesama meski mendengar hal-hal yang tidak enak didengar dari orang lain. Lakukan apa yang anda ingin lakukan kepada orang yang anda kasihi tersebut tanpa mempedulikan apa yang orang lain katakan. Lakukan apa yang anda bisa dan mampu lakukan tanpa perlu memaksakan situasi dan kondisi yang memang tidak bisa atau bahkan tidak perlu dipaksakan. Ujung-ujungnya, ini adalah tentang anda dan orang yang anda kasihi tersebut, bukan tentang orang yang membicarakan anda. Ujung-ujungnya, anda tetap harus berserah kepada Yang Mahakuasa meski anda telah memaksakan diri untuk membantu hingga membuat diri anda sendiri kesulitan.

Hidup ini bukan tentang memaksa untuk melakukan hal-hal yang tidak dapat kita lakukan. Hidup ini bukan tentang mengasihi sesama dengan mempedulikan apa yang dikatakan orang lain. Kasih itu seharusnya bisa dilakukan kapan saja, di mana saja, oleh siapa saja, dan kepada siapa saja. Kasih juga seharusnya bisa dilakukan tanpa harus berpikir berulang kali. Dua hal tersebut hanyalah beberapa hal mengenai kasih yang saya utarakan. Masih banyak hal-hal lain mengenai kasih yang seharusnya bisa membuat mengasihi sesama menjadi suatu hal yang mudah untuk dilakukan, bukannya semakin sulit untuk dilakukan.

Mengasihi sesama juga bukan berarti mengorbankan diri anda sendiri demi memberikan kasih yang seutuhnya kepada sesama. Ya, anda perlu mengasihi sesama dengan sepenuh hati dan tulus, tapi cukup lakukan apa yang menjadi bagian anda, yaitu apa yang bisa anda lakukan tanpa perlu menyulitkan diri anda sendiri. Tidak perlu melakukan hal-hal yang anda tidak mampu untuk lakukan karena belum tentu orang yang anda kasihi tersebut dapat mengingat kasih dan kebaikan anda. Kasih memang tidak seharusnya membutuhkan pengakuan atau imbalan, tetapi kasih juga perlu disertai dengan akal budi.

Ini hanyalah tulisan singkat saya —yang ternyata panjang— mengenai kasih. Ada banyak tulisan-tulisan lain di luar sana yang membahas tentang kasih jauh lebih mendalam dari apa yang saya tuliskan. Tulisan ini murni berasal dari pikiran saya, karena saya mau orang-orang yang membaca tulisan ini dan juga saya sendiri dapat belajar mengasihi sesama dengan penuh totalitas yang juga memerlukan rasionalitas. Saya berharap bahwa kasih dapat menyebar ke seluruh mahluk hidup yang ada di semua penjuru bumi tanpa terkecuali dengan penuh ketulusan dan tidak membebani kita sebagai pihak yang mau belajar untuk mengasihi sesama.

Selamat mengasihi semua mahluk, teman!

Penuh kasih,
signature

** Note :

Untuk kamu yang pasti merasa bahwa dirimulah yang saya tuliskan di tulisan ini jika kamu membacanya. Maaf karena saya tidak meminta izin terlebih dahulu untuk menuliskan kisahmu. Hanya menutup namamu dan tidak memberikan detil kisahmu saja yang bisa saya lakukan dari tulisan ini. Maaf juga karena saya tidak dapat membantu banyak atas kondisi keluargamu saat ini. Ketahuilah bahwa saya mengasihimu dan keluargamu tulus tanpa pernah mengharap imbalan.

Leave a Reply