Journal Wellness

gangguan mental / emosional / psikolgis

kalau ada seseorang yang memiliki gangguan mental atau emosional, siapa yang perlu disalahkan? lingkungannya, keluarganya, atau dirinya sendiri? atau mungkin nggak ada yang perlu disalahkan?

pertanyaan ini seringkali muncul di pikiran gue karena gue banyak mengamati orang-orang yang sebenarnya memiliki pengalaman yang cukup meninggalkan bekas di dirinya, sehingga sedikit banyak mengubah kepribadian dan memengaruhi mental atau emosinya. akan tetapi, dari sekian banyak orang yang gue amati, banyak dari mereka yang seringkali menutupinya, kecacatan mental atau emosional itu, entah disengaja ataupun tidak, seolah-olah gangguan mental atau emosional itu sesuatu yang tabu dan bahkan memalukan untuk ditunjukan. kalau ditelusuri lebih lanjut, biasanya orang-orang dengan gangguan mental atau emosional ini seringkali memiliki pengalaman yang berkaitan dengan orang lain. jarang sekali ada pengalaman yang terjadi karena dirinya sendiri tanpa ada keterlibatan orang lain sama sekali. mungkin ada, tapi gue nggak pernah lihat dan ketemu. lantas kalau begini polanya, selalu melibatkan orang lain, siapa yang harusnya disalahkan dong atas gangguan mental atau emosional yang memengaruhi psikologis-nya tersebut?

gue bisa berpikir seperti ini karena gue sendiri mengalaminya. gangguan mental atau emosional, yang memengaruhi kondisi psikologis gue secara umum. apakah dengan gangguan mental atau emosional ini, gue jadi berbeda dengan orang lain? berbeda dalam artian yang benar-benar berbeda, sehingga patut dikucilkan, dijauhkan, diasingkan? nyatanya, punya gangguan mental atau engga, punya gangguan psikologis atau engga, manusia emang pada dasarnya udah berbeda antara satu dengan yang lain. kalau dari dasarnya udah beda, ya kenapa harus dikasih alasan-alasan lain, seolah itu tambah bikin beda? beda mah beda aja kali.

belakangan, gue banyak notice masalah-masalah mental/emosional/psikologis yang disebut-sebut di media sosial, salah satunya daddy issues. selain itu, sebenernya ada banyak yang sering kedengeran, kayak anxiety, depression, bipolar, insecurity, dan kawan-kawannya. tapi, gue spesifik menyebutkan daddy issues karena gue pengen cerita soal pengalaman gue pribadi battling sama gangguan psikologis diri sendiri, akibat ya salah satunya si isu yang lagi naik daun ini.

sebelum beranjak jauh, gue jelasin secara singkat apa itu daddy issues. daddy issues adalah nama masalah psikologis seseorang yang biasanya kekurangan figur ayah sepanjang hidupnya, atau bisa juga justru mengalami kekerasan ataupun pelecehan oleh sosok ayahnya sendiri. selain itu, bisa juga karena adanya satu dan lain hal yang terjadi di keluarganya, yang menyebabkan seseorang ini sadar bahwa sosok ayah yang dimilikinya berbeda sekali dengan standar sosok ayah yang ideal di luar sana. karena beberapa pemicu ini, orang-orang itu biasanya akan tumbuh dengan memiliki beberapa kendala, misalnya ngerasa kurang kasih sayang dan selalu butuh kasih sayang dari sosok laki-laki yang biasanya lebih tua, seolah-olah berusaha mengisi kekosongan sosok ayah di hidupnya dengan mencari sosok itu di luaran. atau, bisa juga malah jadi nggak respect sama laki-laki dan memilih untuk berdiri sendiri, berkarir atau berusaha sendiri, tanpa perlu bantuan sosok laki-laki sebagai pasangannya. masih banyak contoh masalah real yang terjadi akibat daddy issues ini, yang barusan baru dua contoh aja.

nah, lalu apa hubungannya sama pengalaman gue? ya, gue nggak perlu cerita secara detail, yang jelas semasa kecil gue kekurangan sosok ayah dalam hidup gue. nggak cuma ayah, ibu juga. intinya, kedua orang tua. terus begitu dari sejak gue masih TK sampai udah beranjak remaja, dan akhirnya dewasa. apakah itu artinya kedua orang tua gue bukan orang tua yang baik? hmm, gue nggak bisa bilang gitu juga sih. biar gimanapun, mereka udah berusaha semampu mereka untuk jadi sosok orang tua buat gue. nyokap dan bokap gue udah cukup banting tulang dan susah payah sekolahin dan besarin gue, jadi gue rasa itu cukup untuk mengkategorikan mereka sebagai orang tua yang baik. toh pada akhirnya, ketika gue udah sebesar ini, bokap dan nyokap gue bisa pelan-pelan berusaha mengisi kekosongan yang ada sejak gue kecil. tapi, lagi-lagi, kenyataan nggak bisa bohong. luka sekecil apapun, kalau dalam, pasti akan ninggalin bekas. ya sama dengan gue. mungkin kelihatannya sepele, dan sudah berusaha diperbaiki ketika gue beranjak dewasa, tapi bukan berarti bekasnya hilang begitu saja. bekasnya tetap ada, dan selalu ada, mengikuti gue kemanapun gue pergi.

sebagai orang yang cukup sadar kalau gue punya gangguan psikologis/mental/emosional tapi gue juga nggak bisa diagnosa apa gangguannya karena gue bukan profesional, dan gue juga selama ini nggak punya biaya untuk meminta bantuan profesional, gue jadi cukup sering baca-baca artikel atau buku yang berkaitan dengan self-help, pengembangan diri, psikologis. bukan buat apa-apa, cuma buat mencari tahu dan menerka-nerka, gue tuh sebenernya kenapa, dan apa sebabnya. ketika gue ada di tingkat SMK dan setelah itu lanjut bekerja, dengan bacaan yang semakin berat dan penuh daging untuk dipelajari, gue baru sadar bahwa hal-hal yang selama ini cukup mengganggu diri gue sendiri ada kaitannya sama hilangnya figur ayah di hidup gue semasa kecil. memang nggak cuma itu aja, masih ada beberapa faktor lain, tapi sementara gue mau fokus dulu sama si daddy issues ini.

dari gue SMP, sampai gue kerja, gue selalu sadar bahwa gue gampang banget deket dan nyaman sama orang-orang yang biasanya berjenis kelamin laki-laki, dan kebanyakan usianya di atas gue. ada juga beberapa yang seumuran, tapi biasanya yang paling menonjol buat bikin gue nyaman selalu ada pada karakternya yang dewasa dan kelihatannya “bisa” menyayangi gue. awalnya gue nggak pernah ngerti kenapa. gue cuma tahu gue lebih nyaman deket sama laki-laki daripada sama perempuan. bukan artinya gue nggak suka perempuan sama sekali, tapi karena gue ngerasa kalau sama perempuan, perasaan gue bisa dibilang kayak love-and-hate relationship (nanti gue cerita kenapanya). jadi, ya siklusnya akan selalu begitu terus dari SMP. deket sama laki-laki, ngerasa nyaman, lalu ketika udah mulai dekat, gue mulai risih. gue biasanya mulai mikir, ‘kayaknya kita terlalu deket deh’, dan perlahan-lahan gue pun menjauh, sampai beberapa pun akhirnya hilang kontak. hampir ke semua orang, di setiap masa dalam hidup gue, siklusnya kayak gitu. lambat laun, gue mulai ngerasa kalau diri gue yang ngerasa kayak gitu tuh nggak bener. ada yang nggak beres sama gue. that’s when i started to figure things out, on my own. pas tahu bahwa apa yang selama ini gue lakukan itu salah, dan kemungkinan besar gue melukai perasaan orang-orang itu, gue ngerasa bersalah. guilty yang menetap bertahun-tahun. butuh bertahun-tahun lamanya untuk berdamai sama diri sendiri, dan berusaha memaafkan diri sendiri setiap ingat semua orang yang mungkin pernah gue jauhi dan gue sakiti.

ketika tahu bahwa kebiasaan gue untuk gampang banget luluh dan nyaman sama sosok laki-laki yang lebih dewasa ada kaitannya dengan kekosongan figur ayah semasa gue kecil, gue nggak langsung berhenti research. gue terus menerus melakukannya sampai gue juga sadar bahwa kelemahan-kelemahan lain kayak gue kurang percaya diri, terus-menerus ngerasa ada yang salah sama diri gue, low self-esteem, diri gue nggak pernah jadi cukup (cukup baik kek, pinter kek, cakep kek, cukup apa aja pokoknya), saling berkaitan dengan masalah keluarga dan kedua orang tua gue.

seakan daddy issues ini belum cukup, gue juga sadar bahwa rasa nggak percaya diri gue sedikit banyak dipengaruhi sama nyokap. so in my case, i was having problems with both of my parents hahaha. di beberapa paragraf di atas gue sempet bilang kalau gue punya love-and-hate relationship sama perempuan, and that’s mostly because of my mom. kenapa? karena gue seringkali mendengar dan melihat dia yang nggak percaya dengan bokap gue, berusaha membuat diri terlihat mengenaskan dan pelru dikasihani, seolah-olah cuma rasa kasihan bokap yang bikin dia ngerasa lebih baik lagi. dia bisa berpura-pura untuk melakukan sesuatu hingga orang lain luluh atau mau-nggak-mau ngikut permainannya. gue sebagai orang yang tinggal bareng nyokap dari kecil, gue sangat tahu dengan… apa ya sebutnya… gue nggak bisa sebut kelicikan dia, karena walaupun dia nunjukin ekspresinya secara arogan, tetep aja alasan paling dasar yang melatarbelakangi perilakunya adalah rasa nggak percaya dirinya itu. di satu sisi gue benci dan nggak suka banget ngeliat nyokap yang bisa memanipulasi orang lain cuma karena rasa nggak percaya dirinya yang ditutupi arogansinya dia, tapi di sisi lain, gue juga memaklumi kenapa dia begitu. jangan lupa juga kalau biar gimanapun dia nyokap gue dan gue juga pasti sayang sama bonyok gue. jadi, ya, tanpa gue sadari, seiring berjalannya waktu, sekeras apapun gue bertekad untuk nggak jadi kayak nyokap yang butuh dikasihani orang lain ataupun pasangannya sendiri, nggak percaya diri kalau dia layak dan pantes disayangin tanpa harus berusaha keras buat nunjukin kalau dia layak dan mampu… sekeras apapun itu gue mencoba biar nggak begitu, tetep aja secara nggak sadar, gue terbawa oleh sifat dan kebiasaannya dia. nggak seekstrim itu memang, tapi tetep aja, gue ikutan kayak gitu. gue ikutan jadi orang yang nggak percaya diri dan butuh pengakuan orang lain untuk ngerasa bahwa gue cukup, gue pantas, gue cukup disayangi dan dikasihi orang lain tanpa perlu dikasihani.

masih gue inget banget gimana gue selalu pengen jatuh sakit supaya orang-orang yang gue sayang, yang gue pengenin perhatiannya, bisa kumpul dan perhatiin gue, ya karena dulu gue pikir cuma itu satu-satunya caranya. waktu itu gue masih kisaran SD-SMP. basic-nya, gue emang penyakitan dan gampang banget sakit-sakitan selama kecil. nggak terhitung berapa kali gue dirawat inap di rumah sakit selama gue kecil, dari balita sampai SD kelas 2. tapi setelah itu, gue jarang banget sakit. semenjak SD kelas 2 itu, gue hampir nggak pernah masuk rumah sakit lagi, dan… yaa perlahan tapi pasti, gue makin kehilangan atensi dan perhatian dari orang-orang yang sebenernya gue butuhin perhatiannya. kalau gue coba inget-inget, gue bahkan pernah pengen bunuh diri, atau at least melukai diri, supaya gue bisa dapetin perhatian mereka. hahaha. kalau diinget-inget semua kisah gue dari kecil, gue jadi pengen nangis sendiri :”) nggak tau deh kenapa.

gue sadar nggak dengan semua masalah gue ini? sadar. gue sadar nggak kalau orang tua gue salah satu penyebab kenapa gue begini? sadar. tapi apa itu artinya gue bisa nyalahin mereka? ya, nggak juga. kenapa? karena… mereka ya cuma manusia yang sebenernya cuma mencoba buat menyesuaikan gesekan satu sama lain, supaya irama mereka cocok, supaya beriringan, walau kenyataannya nggak bisa dan berakhir nyakitin mereka berdua, dan bahkan gue pun kena imbasnya. biar gimanapun, gue tahu bonyok gue baru pertama kali jadi orang tua di dalam hidup ini, dan kebetulan aja anaknya gue, makanya akhirnya gue yang ngalamin ini semua. sekarang gue udah bisa nerima banyak hal di hidup gue yang dulunya gue nggak bisa atau sulit nerima, tapi tetep aja sampai kapanpun, gue tau bekas luka-lukanya masih ada dalam diri gue, dan oleh karena itu, gue tahu cepat atau lambat, gue butuh bantuan profesional. entah psikolog, atau mungkin ahli spiritual yang bisa guide gue untuk heal inner child atau wound ini.

inti dari tulisan yang cukup panjang ini adalah, gue cuma pengen kasih tahu buat siapapun yang baca tulisan ini, kalau lo nggak sendirian. jadi kenapa-kenapa, atau ada apa-apa itu ya nggak apa-apa. it is okay to not be okay. kesalahan masa lalu yang udah kejadian, udah nggak bisa diubah lagi. percuma diseselin, percuma ditangisin. nggak akan mengubah apa-apa. yang perlu dipikirin justru sekarang, masa di mana lo tahu ada yang nggak beres di dalam diri lo. gangguan-gangguan mental atau emosional atau psikologis yang selama ini lo tumpuk diem-diem, entah karena lo nggak mau nyusahin orang lain, atau karena lo emang nggak punya akses buat cari pertolongan profesional (bisa karena masalah finansial atau nggak tahu harus kemana), cepat atau lambat perlu dibenahi, ditata ulang, supaya bisa lo tengok lagi, kenang lagi, tanpa bikin berantakan diri lo. semua yang udah kejadian, biar jadi memori aja, jadi pajangan dalam diri, tapi ya gitu, harus ditata, dirapihin, biar nggak bikin lo kesandung.

dari pengalaman gue, atau bahkan dari pengalaman hidup lo sendiri, lo bisa sadar kalau ternyata gangguan yang ada dalam diri lo tuh selalu ada kaitannya sama orang lain, tapi bukan berarti itu salah mereka semata. pada akhirnya, yang salah itu semuanya yang kebetulan ada di waktu itu, momen itu. meski begitu, kita tetep harus bisa belajar dari kesalahan dan pengalaman itu. diinget-inget yang bener kalau apapun yang kita lakuin, sedikit atau banyak pasti berpengaruh ke orang lain. makanya, perlu jaga sikap dan tutur kata. jaga perlakuan. bukannya harus jadi orang serius selamanya, tapi perlu lebih peka untuk mengurangi gesekan-gesekan sama orang lain sepanjang kita hidup. seek help if it is needed. no need to be ashamed. nggak perlu malu cerita sama orang yang sekiranya bisa nolong lo. belajar buat terbuka dan berbagi beban sama orang lain. ditanggung sendiri nggak akan kuat. memang butuh waktu, tapi pasti bisa. semangat temen-temen! <3

 

with love,

Leave a Reply