Journal Self

ditempa.

Jatuh bangun dalam kehidupan tuh udah biasa. Nggak ada yang selamanya mulus atau selamanya susah. Kalau keadaan senang atau hidup mulus-mulus aja, kita nggak akan ngeluh atau bertanya-tanya tentang hidup ataupun diri sendiri. Kalau keadaan susah, gimana? Ngeluh, nangis, marah, kecewa, bertanya-tanya tentang tujuan hidup, tujuan keberadaan diri kita dalam dunia ini, juga pertanyaan kenapa Tuhan kasih cobaan ini dalam hidup kita.

Gue nggak bisa kasih jawaban konkrit kenapa Tuhan ngijinin hal-hal sulit terjadi dalam hidup kita sebagai manusia, tapi gue bisa bercerita pengalaman gue pribadi.

Kalau temen-temen udah baca blog gue dari postingan sebelum-sebelumnya, temen-temen harusnya ngeh kalau gue lahir bukan dari keluarga berada. Gue sendiri lupa apakah gue pernah cerita detil tentang background family gue, tapi yang jelas sepanjang kurang lebih 19 tahun gue hidup, dengan kurang lebih 16 tahun di antaranya gue jalani dengan penuh kesadaran dan kedewasaan yang melebihi orang-orang seusia gue, gue udah ngerasain yang namanya jatuh bangun dalam keluarga. Masalah seolah datang silih berganti, tiada habis-habisnya.

Mulai menjelang akhir masa-masa SD nyokap berhenti kerja dan pendapatan keluarga menurun drastis, masuk masa-masa SMP nyokap mulai buka usaha ini itu tapi lebih sering gagalnya daripada berhasilnya, bokap jarang di rumah karena memang sudah pisah rumah sejak lama dan usahanya saat itu pun seringkali tidak di Jakarta, kemudian kehilangan seseorang yang saat itu gue anggap sangat berharga, ditambah cekcok dan ketidak cocokan sifat antara gue dan nyokap. Seakan itu semua belum cukup, gue masih harus pindah sekolah dan juga tempat tinggal ke daerah yang jauh dari temen-temen terdekat dan belajar kenalan mulai dari 0 lagi. Ugh, bukan gue versi remaja banget deh, untuk kenalan sama orang baru dan ada di lingkungan baru.

Masih nggak berhenti di situ, gue yang semakin tumbuh besar lambat laun sadar kalau finansial keluarga gue ada dalam kondisi kritis. Merasa semua bener-bener datang tanpa jeda dari gue SD sampai SMA, gue mulai ngerasa eneg dan capek. Nggak jarang gue kepengin bunuh diri pas masa-masa SMP, karena masa-masa itu adalah waktu di mana diri gue paling lemah secara mental. Kesepian nggak ada keluarga atau orang di rumah, nggak punya terlalu banyak temen di sekolah, nggak bisa jalan-jalan keluar juga karena keterbatasan biaya dan akomodasi untuk berpergian jauh.

Ketika masa-masa SMP berlalu dan gue masuk ke masa-masa SMA (well, lebih tepatnya sih SMK), metode gue untuk melepas stress beda lagi. Bukan dengan kepengin bunuh diri karena gue udah mulai sadar kalau gue lagi nggak sehat secara mental dan kepengin bunuh diri itu cuma jalan pintas aja yang nggak menyelesaikan masalah, tapi dengan nangis terus-terusan. Gue yang tinggal di rumah tante saat itu nggak pernah kasih lihat seberapa seringnya gue nangis, yang mana artinya gue selalu nangis diem-diem pas mereka semua lagi tidur, atau pas mandi, atau pas waktu ‘belajar’. Kepala gue rasanya mau pecah kalau mikirin masalah-masalah dalam hidup. Gue sering banget tanya Tuhan, doa sambil nangis, apa sih tujuannya gue hidup kalau gue nggak bisa bantu apa-apa? Apa tujuannya gue hidup kalau di usia gue yang sebegini mudanya aja, gue udah harus nanggung beban segini beratnya? Sampai sekarang, kalau inget masa-masa itu, rasanya gue masih kepengin nangis walaupun sebenernya gue hampir udah nggak pernah mikirin masalah-masalah itu.

Saat itu, doa gue ternyata dijawab Tuhan, tapi gue yang nggak sadar. Gue nggak tahu kalau apa yang lagi gue jalani saat itu adalah rencana Tuhan. Tuhan jawab doa gue saat itu bukan dengan menyelesaikan masalah-masalah gue saat itu juga, tapi Tuhan bimbing gue untuk belajar mandiri, bangkit dari keterpurukan, belajar untuk self-healing, dan untuk kenal sama diri sendiri. Cara Tuhan membuat gue ngerasa tenang dan damai seperti sekarang bener-bener di luar dugaan. Nggak cepet, tapi juga nggak lama. Kilas balik ke belakang, gue mulai bisa ngelihat rencana Tuhan bekerja ketika gue kelas 2 SMK. Justru dimulai dari masalah-masalah di keluarga, gue mulai diajar untuk bangkit dan mandiri tanpa ngandelin bokap nyokap ataupun keluarga gue yang lain. Gue diberi kesempatan untuk ngajar dan bisa punya penghasilan sendiri buat bantu-bantu nyokap, gue diberi kesempatan untuk pakai banyak waktu di luar rumah untuk ngelakuin hal-hal yang positif karena Tuhan tahu gue belum bisa ada di rumah terlalu lama (gue belum bisa nerima kondisi keluarga gue saat itu, dan ada di rumah cuma bikin gue makin stress sampai di tingkat gue pengin teriak dan nangis aja saking frustasinya), gue diberi kesempatan untuk ketemu orang-orang yang sayang sama gue sama seperti bokap nyokap sayangin gue dengan perbedaan bo-nyok jarang ada di rumah dan gue pun lebih sering ketemu sama orang-orang selain bo-nyok, dan gue diberi kesempatan untuk kenalan dengan diri sendiri melalui waktu-waktu yang gue habiskan sendirian di jalan ketika naik ojek atau bus. Butuh waktu kurang lebih 3 tahun mulai dari kelas 2 SMK sampai saat ini untuk gue bisa bener-bener nerima keadaan. Boleh dibilang, sekarang pun dengan bekerjanya gue di Kalimantan, karena salah satu alasan awalnya gue mau lari dari keluarga gue di Jakarta. Rasanya, gue belum siap bertemu mereka dan menghadapi masalah keluarga bareng-bareng setiap hari. Tapi, kondisi gue hari ini jauh lebih baik dibanding kondisi gue di masa-masa beberapa tahun yang lalu.

Gue baru menyadari semua kesempatan dan pelajaran yang Tuhan kasih ke dalam hidup gue justru ketika gue udah ada di Kalimantan dan jauh dari keluarga. Gue nggak pernah menyesali keputusan gue untuk berangkat merantau ke Kalimantan (ya walaupun tetap pulang setiap 2 bulan sekali sih), karena dengan kepergian gue ke tempat antah berantah ini, dengan menyatunya diri gue dengan alam, dengan menyendiri dan jauh dari dunia maya, dengan focus hanya ke pekerjaan dan diri sendiri, gue bisa belajar untuk menerima, berdamai baik dengan diri sendiri, masa lalu, ataupun dengan keluarga, dan gue bisa belajar untuk bersyukur.

Dari cerita ini, temen-temen bisa lihat berapa lamanya diri gue diproses dan ditempa oleh Tuhan. Hampir 16 tahun, dimulai dari gue umur 3 tahun dan itu pertama kalinya gue tahu ada yang nggak beres sama bo-nyok gue (yep, gue lihat mereka berantem dan gue pun masih inget sampai sekarang), sampai setahun belakangan ini di mana gue struggling dengan diri sendiri, keluarga, juga lingkungan yang serba baru buat gue. Nangis, stress, frustasi sampai teriak kayak orang gila di depan nyokap bokap gue sendiri, kabur dari rumah, pengin bunuh diri, udah pernah gue laluin semua, tapi beda sama diri gue yang dulu yang cenderung mengasihani diri sendiri, diri gue yang sekarang justru merasa semua hal itu wajar saja untuk dirasakan dan dilalui. Kalau nggak ngerasain sedihnya, susahnya, sakitnya, namanya proses dan tempaan Tuhan belum bekerja dalam hidup kita. Sampai sekarang pun, gue masih suka nangis kok kadang-kadang, kalau ada masalah yang menurut gue berat. Tapi, pola pikir dan cara menyikapinya udah berbeda. Kalau dulu gue cenderung menyalahkan Tuhan, bertanya kenapa harus gue dan apa alasannya, sekarang gue lebih sering mengeluh dan merajuk seperti anak kecil, kemudian gue mohon pertolongan Tuhan untuk kasih gue kekuatan dalam melalui masalah-masalah yang kayak t*i ini. Kenapa gue nggak lagi minta jalan keluar atau alasan dari Tuhan? Karena gue tahu, setiap masalah yang gue lalui sekarang sudah pasti ada jalan keluar yang Tuhan sudah siapkan, dan alasan dari keberadaannya masalah ini pun karena ingin menjadikan gue pribadi yang lebih baik.

So temen-temen, kalau hari ini hidup lo terasa berat dan sangat menyedihkan, nggak apa-apa kok kalau lo mau nangis. Mau teriak, mau jejeritan, nggak apa-apa, asal lo nggak takut dikatain orang gila aja sama orang lain. Hehe. Tapi gue serius kok, it is okay to cry, to let out all your emotions, to runaway from things, as long as you always ask for His guidance and mercy towards you. Ask Him to fill your heart and soul with His love. Kalau lo tanya kenapa Tuhan izinin semua hal ini terjadi dalam hidup lo, percaya sama gue kalau sebenernya Tuhan lagi proses dan tempa lo. Bukan karena Dia nggak sayang lo. Justru karena Dia sayang banget sama lo, Dia mau lo ngerasain itu sekarang, supaya ketika nanti ada masalah serupa, lo udah nggak kaget lagi, dan justru lo bisa selesaiin dengan lebih berani, lebih mandiri, lebih tangguh dari sebelumnya. Dengan diproses dan ditempa oleh Tuhan, lo mengizinkan diri lo untuk belajar banyak soft skill baru, di antaranya mental yang lebih kuat dan tahan banting, keberanian untuk menampilkan diri kepada dunia bahwa kita bisa karena kita punya Tuhan yang dahsyat, diri yang penuh syukur karena pola pikir yang semakin membaik, dan diri yang mau terus belajar agar bisa menolong orang lain. Proses dan tempaan yang Tuhan izinkan untuk terjadi dalam hidup lo nggak akan sia-sia. Tangis dan air mata lo, Tuhan itung, guys. Tuhan tahu seberapa menderitanya lo sekarang. Bukan Dia nggak mampu untuk menyudahi semua rasa sakit lo itu sekarang, tapi karena Dia mau lo belajar.

Satu hal yang nggak akan pernah gue lupain dari kakak rohani gue di Gereja dulu. Dia pernah bilang, Tuhan izinkan semua masalah di dalam hidup gue terjadi supaya ketika nanti ada orang lain yang ngerasain masalah yang sama dengan apa yang gue alami saat itu, gue bisa kasih solusi ke mereka dan juga nguatin mereka. Itu adalah salah satu alasan gue menulis ini sekarang, ataupun menciptakan blog ini. Gue pengin berbagi dan menolong orang lain dengan masalah serupa tanpa harus dia datang susah payah mencari gue.

Gue rasa, tulisan hari ini cukup sampai di sini. Semoga pesan yang ingin gue sampaikan dapat diterima dengan baik. Tetap semangat, paling tidak jangan menyerah kalau belum bisa semangat, dan banyak-banyakin minta pertolongan Tuhan. Tuhan Yesus memberkati!

“Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.”

-Yakobus 1:12-

Shared with love,
Aini

Leave a Reply