Self Travel Wellness

apa yang alam ajarkan.

Hah? Tinggal di tengah hutan? Apa rasanya? Pertanyaan-pertanyaan itu kerap muncul ketika aku mengatakan aku kerja di Kalimantan. Makan, tidur, kerja, ya di tengah hutan. Jauh dari perkotaan, jauh dari hiruk pikuk warga seperti kota asalku Jakarta, jauh dari kemewahan jaringan telepon dan internet 4G. Jangankan 4G, 2G aja nggak ada. Mentok-mentok, ya Edge, itupun kalau dapat sinyal.

Tepat Juli lalu aku memutuskan untuk berangkat ke Kalimantan dan memilih untuk menetap di sana dalam berkegiatan sehari-hari. Walau pulang setiap 2 bulan sekali ke ibukota, tetap saja tidak bisa dipungkiri kalau ada yang aku sukai dari tempatku bekerja.

Lebih dari sekedar tinggal di tengah hutan, aku belajar banyak hal. Yang terutama adalah belajar untuk mengenal diriku sendiri, tepatnya mengenal lebih jauh, karena memang itu alasanku untuk mengambil keputusan menjauh dari ibukota. Belajar mengenal diri lebih jauh tidak bisa kulakukan di kota asal, karena ada terlalu banyak interfensi dari berbagai pihak (contoh paling gampangnya ya internet, selain tentunya keluarga). Dari keinginanku untuk lebih banyak menikmati masa kini, menikmati momen-momen yang bisa kurasakan sekarang, menikmati masa-masa mudaku sambil aku berpetualang mencari jati diri dan mencari pengalaman, aku menyadari banyak hal, hal-hal yang kuyakin baru bisa kusadari setelah ada di tengah hutan ini.

Setiap hari, aku pergi ke kantor atau pulang ke dormitory melewati pepohonan. Pohon-pohon rindang, langit cerah tak berpolusi, udara sejuk dan bersih, ya walaupun kadang-kadang tetap mendung dan hujan juga. Suatu kali di luar kegiatan rutinitas yang setiap hari hanya bolak-balik dorm-kantor saja, aku diberi kesempatan untuk ikut project photoshoot model dari Ukraina dan pergi ke beberapa tempat yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya ada di tengah hutan. Sungai yang letaknya persis di belakang dormitory dan bisa dijadikan tempat berenang, air terjun kecil dengan tata letak batu yang terlihat seperti buatan manusia namun kenyataannya asli buatan alam, kolam tambak ikan yang seringkali dilewati namun tak dinikmati keindahannya, serta air terjun besar yang perlu melalui jalan yang tak karuan tapi mampu menghapus semua rasa lelah begitu berenang di bawahnya.

Dengan waktu perjalanan dari yang hanya 5 menit hingga yang mencapai 2.5 jam, aku banyak berpikir, merenung, dan menikmati keindahan pepohonan yang setiap hari kulewati. Dipikir secara sekilas, semua pohon-pohon di sepanjang perjalanan itu tidak ada bedanya dengan pohon-pohon yang kulalui setiap hari dalam perjalanan ke kantor atau ke dorm. Lagipula, apa sih bagusnya hutan? Iya, kan? Pasti banyak orang yang berpikir begitu. Aku juga sama, tapi dulu. Jauh sebelum aku merasakan sendiri bahwa semua pohon-pohon itu, dengan segala kemiripannya dan kesamaannya, ternyata berbeda satu sama lain, dan sangat indah untuk dinikmati pemandangannya.

Seiring berjalannya waktu, aku mulai menemukan jati diriku sedikit demi sedikit. Aku menyadari bahwa aku suka berada di alam bebas. Aku sadar bahwa aku berjiwa lepas dan sedikit tomboy, tak peduli seberapa sering aku mencoba untuk berperilaku seperti perempuan pada umumnya yang lemah lembut, anggun, gemar menggunakan dress, berpakaian terbuka, berdandan, ataupun shopping. Aku sadar bahwa bukan pekerjaan kantoran dan di balik meja yang kuinginkan. Aku menginginkan pekerjaan yang bebas, lepas, berpergian ke berbagai tempat –jauh atau dekat– dan mengizinkanku untuk berkreasi dan berperan penuh mengambil tanggung jawab seutuhnya atas pekerjaan yang aku kerjakan.

Aku belum menyadari hal-hal itu tentang diriku ketika aku tak meluangkan waktu untuk berpikir dan menikmati alam ini. Ketika setiap hari hanya berkutat dengan perjalanan ke kantor-dorm dan pekerjaan, tak pernah aku sadari kalau aku berjiwa bebas dan lepas. Maka ketika aku ada kesempatan untuk melakukan project tersebut –walau hanya sekedar asisten, aku memanfaatkan waktu untuk berpikir dan menyalurkan apa yang kusenangi meski dalam keterbatasan.

Tidak melulu tentang diriku sendiri, aku tersadarkan dan semakin berkembang juga karena lingkungan sekitarku. Ya, tinggal di tengah hutan, namun aku tidak sendiri. Aku bersama ratusan, atau mungkin ribuan orang yang tidak tahu teknologi. Tidak tahu mall, tidak tahu bioskop, tidak tahu kereta, tidak tahu pesawat. Mereka yang tinggal di rumah kayu dan terlihat lusuh, namun punya tanah yang luasnya lebih dari luas tanah yang dimiliki orang-orang di Jakarta. Mereka yang tidak menggunakan barang-barang branded, namun tetap terlihat anggun dan berkelas dengan caranya sendiri. Mereka yang tidak punya toilet di rumahnya dan harus pergi ke sungai untuk mandi (yang juga digunakan airnya untuk memasak), namun tetap sehat dan gagah meski usianya sudah lewat 60 tahun. Dan masih banyak lagi hal-hal yang menyadarkanku. Aku tertegur, aku merasa malu, aku bersyukur. Mereka yang hidup berbaur dan menyatu dengan alam merasa cukup dan bahagia, jauh melampaui kebahagiaan orang-orang yang hidup dengan kenyamanan teknologi dan perkembangan zaman.

Alam membuatku mengerti. Alam membuatku tersadar. Alam yang terlihat sama namun berbeda. Alam yang indah namun sering diabaikan, terlupakan, bahkan dirusak. Pepohonan dengan ratusan, ribuan, jutaan, atau miliyaran daun hijau yang menenangkan, berkilau disinari matahari pagi yang menyehatkan. Warna-warni dedaunan yang tak cuma hijau melulu meski dengan berbagai jenis hijau, namun juga kekuningan dan kecokelatan. Tak jarang ada dedaunan yang warnanya kemerahan dan terlihat menonjol dari kawan-kawan pohonnya yang lain dengan daun hijau. Tanpa keindahan-keindahan ini, mungkin aku tidak akan tersadarkan akan keinginan besarku, yang hanya sedang menunggu keberanian dari sang empunya untuk menjadikannya kenyataan.

Carilah pelarian. Larilah dari masalah hidup. Tak apa membuang waktu beberapa tahun. Asal kau bisa menikmati waktu, mencari tahu tentang diri sendiri lebih dalam lagi, memperbaiki diri, mencintai diri, sebelum akhirnya kembali dan menghadapi segala permasalahan hidup dengan pribadi yang lebih siap dari sebelumnya. Jika berpikir untuk lari dari kehidupan, cobalah ke hutan. Tinggalah di tengah hutan. Atau pedesaan. Carilah tempat yang jauh dari hiruk pikuk dan penduduk. Beri waktu untuk diri sendiri. Tanya, nikmati, tanya, nikmati. Tanpa internet, tanpa interfensi orang-orang, tanpa kebisingan dan keruwetan. Hanya kau dan dirimu sendiri.

Selamat mencari jati diri dan menikmati alam! Jangan lupa untuk bersyukur dan bahagia…

Written with much love and care,
signature

Leave a Reply