Self Uncategorized Wellness

3 hal yang bisa lo petik dari sesi #dirumahaja

Beberapa hari belakangan ini, gue banyak menghabiskan waktu di rumah. Bukan karena pengen, tapi memang sudah keharusan. Agar terhindar dari virus Corona yang menyebar cepat, agar mengurangi kontak dengan orang lain yang dapat menyebabkan diri gue menjadi carrier atau malah terinfeksi virus tersebut, dan agar gue dapat membantu tenaga medis yang berdiri di garis paling depan membantu banyak orang. Baru kali ini di dalam sejarah bahwa kita bisa membantu orang lain hanya dengan berdiam #dirumahaja. Berikut hal-hal yang gue pelajari dan bisa lo petik dari sesi #dirumahaja selama hampir 1 bulan penuh.

1. Kita terlalu banyak mengambil keuntungan secara cuma-cuma

Maksudnya? Kita hidup dan diberkati dengan memiliki waktu. Waktu yang bisa digunakan untuk belajar, untuk bersenang-senang, untuk bekerja, dan untuk banyak hal lainnya. Tapi kita tidak sadar bahwa kapan saja, waktu yang kita miliki bisa diambil. Seperti yang terjadi sekarang-sekarang ini. Virus Corona menyebabkan COVID-19 yang katanya mematikan, dan sudah merenggut banyak nyawa orang. Kita nggak ada yang tahu apakah lo, atau mungkin gue, mungkin jadi orang yang selanjutnya. Karena COVID-19 ataupun bukan, nyawa kita bisa sewaktu-waktu diambil, tapi selama ini kita merasa bahwa kita memang berhak untuk mendapatkan ‘waktu’ itu. Hell, no. We don’t deserve the time for we to be alive. That it why we have to be grateful. We should not take things for granted, and we should try our best for everything we do in life.

Dalam hidup, satu hal yang paling sering kita ambil keuntungan secara cuma-cuma adalah waktu. Waktu untuk beristirahat, waktu untuk bersenang-senang, waktu untuk bertemu keluarga. Selain waktu, keluarga adalah hal lain yang paling mudah kita manfaatkan dan ambil keuntungan secara cuma-cuma tanpa ingat bagaimana kita harus mengapresiasinya. Kita berpikir seolah-olah besok kita akan mendapatkan ‘waktu’ untuk melakukan hal lain, atau mungkin untuk bersama dengan keluarga. Padahal, belum tentu, kan?

Keluarga adalah orang terdekat yang kita miliki, tapi seringkali justru mereka yang kita ingat belakangan setelah kita memprioritaskan pekerjaan, teman-teman, tugas-tugas, dan lain-lain. Bukan berarti kita harus bersama keluarga 24 jam setiap harinya dalam 1 minggu, tapi akan lebih baik kalau kita bisa memberikan lebih banyak waktu kita untuk keluarga. Orang tua, kakak atau adik apabila ada, adalah orang yang menjadi supporter pertama kita dalam hidup. Mungkin tidak semua hal yang ingin kita raih atau lakukan didukung mereka karena ada saja orang-orang yang tidak seberuntung itu untuk memiliki keluarga yang suportif, tetapi setidaknya mereka yang membantu kita untuk hidup, atau untuk belajar bertahan hidup meski dengan segala kesulitan yang kita punya, dan untuk menjadi diri lo yang sekarang bagaimanapun diri lo.

Hal lain yang dengan mudahnya kita ambil keuntungan secara cuma-cuma adalah kesempatan untuk bisa #dirumahaja. Mungkin lo salah satu yang berpikir bahwa diam #dirumahaja adalah suatu hal yang wajar, yang tidak ada spesial-spesialnya, dan bukan suatu hal yang bisa disyukuri. Kalau lo bukan salah satu orang yang berpikir seperti itu, bagus… tapi kalau lo adalah orang dengan pola pikir kayak gitu, atau setidaknya mirip-mirip, maka lo adalah contoh orang yang mengambil keuntungan secara cuma-cuma dari diam #dirumahaja. Tahu nggak lo, kalau nggak semua orang punya kesempatan untuk #dirumahaja? Mereka mungkin adalah tulang punggung keluarga yang harus mencari nafkah per hari, dari penghasilan harian, bukan bulanan. Mereka mungkin adalah pekerja / karyawan yang pendapatannya harus dipotong sekian persen. Mereka mungkin adalah pekerja medis yang harus stand by justru di masa-masa yang berbahaya seperti saat ini. Mereka mungkin adalah bapak-ibu yang mengantarkan makanan yang lo pesan di aplikasi, dengan dominasi warna hijau, sampai ke depan pintu rumah lo.

Apapun yang lo terima atau punya, dan lo merasa bahwa itu adalah suatu hal yang wajar, yang memang sudah selayaknya lo dapatkan, maka jawaban gue adalah… Hello? Emang lo siapa? Orang paling baik di muka bumi ini saja belom tentu punya kesempatan atau hal-hal yang lo miliki. Kenapa lo merasa itu adalah hal yang wajar yang harus atau bisa lo terima seenaknya? Di saat lo merasa senang-senang saja, ada ratusan atau ribuan orang di luar sana yang harus berjuang bahkan untuk sekedar berusaha melewati hari ini. Ada banyak orang yang berjuang dan berpikir keras bagaimana caranya untuk mengisi perut mereka nanti malam, atau sampai akhir minggu, atau sampai akhir bulan. Ada banyak orang yang berusaha sekeras mungkin melindungi nyawanya karena ia harus berinteraksi dengan orang-orang yang sakit dan berpotensi menularkan penyakitnya.

Banyak orang yang pendapatannya harus dipotong atau bahkan hilang seluruhnya karena wabah ini, sehingga mereka harus berjuang di luar sana dan tidak memiliki kesempatan untuk #dirumahaja. Jadi, jika lo memiliki kesempatan untuk punya waktu istirahat, waktu nonton NETFLIX, waktu dan kesempatan berkumpul bersama keluarga, kesempatan untuk bisa diam #dirumahaja, syukuri semuanya. Lo ga harus merasa bersalah karena orang-orang yang nggak bisa dapetin kesempatan yang sama kayak lo. Cukup lo sadari bahwa lo lebih beruntung dari mereka, dan mereka pun sedang berjuang di jalan hidupnya masing-masing. Cukup lo bersyukur, dan yap, sudah. Itu saja sudah cukup, agar lo bisa menghargai apapun yang lo miliki, mulai dari kesempatan, waktu, barang-barang, keluarga, dan bahkan oksigen untuk bernafas.

 

2. Kita lebih kreatif dan lebih tangguh dari yang kita kira

Pernah nyangka nggak, kalau lo yang biasanya adalah orang yang harus kerja non-stop, atau harus keluar rumah setiap harinya karena nggak betah di rumah atau ada hal-hal lain yang bikin lo nggak suka untuk ada di rumah, ternyata bisa juga bertahan untuk #dirumahaja walau harus melewati banyak badai dan angin puting beliung? Oke ini lebay. Maksudnya, ya walaupun lo harus melewati banyak kesulitan entah itu rasa bosan, mati gaya, atau kekerasan atau tekanan batin jika keluarga lo di rumah tidak memberikan kedamaian, tapi lo bisa bertahan di tengah segala huru-hara yang hanya lo rasakan seorang diri.

Untuk lo yang setiap harinya #dirumahaja dan merasa bosan, mati gaya, kehilangan arah hidup, sadar kah lo bahwa masa karantina ini membuat lo lebih kreatif? Entah gimana caranya, tapi lo berhasil untuk menemukan cara melewati hari demi hari, sehingga lo bisa sampai di hari ini. Manusia terlalu terbiasa dengan kesibukan, dengan segala aktifitas yang kalau dilihat secara kasat mata dan dipikir secara logika terasa berat dan nggak masuk akal, tapi nyatanya bisa dilewati dan malah membuat diri manusia terbiasa dengan kesibukan. Saking terbiasanya, manusia jadi nggak bisa bedain mana yang sibuk dan mana yang produktif, lalu manusia juga jadi nggak tahu harus berbuat apa ketika keheningan, atau diam, datang menghampiri. Apakah lo termasuk tipe manusia seperti itu?

Diam #dirumahaja membuat lo sibuk memutar otak, memutuskan apa yang harus dilakukan setelah ini. Tidur, makan, nonton, baca, gambar, main HP, masak, bersih-bersih rumah, olahraga, lalu balik lagi ke siklus pertama, dan begitu terus sampai monyet bertelur (nggak bisa kan? Ya emang, makanya siklus ini juga akan jalan terus). Tapi dari semua kesamaan dan rutinitas harian, lo berhasil untuk bertahan dan menjadi kreatif, berusaha mengganti aktifitas hari ini dengan hari esok atau hari kemarin, atau berusaha mencari kegiatan-kegiatan baru yang belum pernah lo lakukan, atau tekuni, atau pelajari. Manusia itu memang pada dasarnya kreatif, karena semua manusia lahir dengan kreatifitas. Kreatifitas itu hanya mati karena manusia lebih memilih rutinitas dan tidak mengedepankan kreatifitas. Berhubung diam #dirumahaja bikin lo mau nggak mau mengasah kreatifitas lo mencari akal untuk hal apalagi yang bisa dilakukan, maka setelah masa karantina ini berakhir, lo pasti akan lebih KREATIF lagi dari sebelum-sebelumnya.

Untuk lo yang setiap harinya #dirumahaja tapi merasa tersiksa karena ada yang melakukan kekerasan di rumah baik secara fisik atau verbal, atau merasa tertekan karena sikap orang-orang rumah yang tidak cocok dengan kepribadian lo, gue cuma bisa bilang, lo mampu kok. Lo pasti bisa, lo kuat, dan lo lebih tangguh dari yang lo pikirkan. Ketika lo merasa lo udah nggak sanggup, sebenernya lo baru mengeluarkan 40% usaha dan tenaga lo. Itu artinya, lo masih punya 60% kekuatan dan tenaga untuk berusaha berjuang dan bertahan. Kekuatan 60% itu, jangan disimpen aja dan dijadiin bensin untuk membakar semangat diri sendiri. Lo harus pinter. Entah ada opsi ini atau nggak, tapi usaha lo dari sisa kekuatan yang 60% itu tadi, harus lo pakai dengan mencari pertolongan dari keluarga lain. Saudara jauh, orang tua, atau tetangga, atau teman. Orang yang lo cukup percaya dan cukup mengenal lo, cukup untuk menjaga lo.

Seandainya nggak ada opsi untuk mencari pertolongan, lo harus bisa berjuang sendiri. Lo harus berani bersuara. Lo harus berani melakukan pengaduan, entah ke polisi, ke Komisi Perlindungan, ke saudara, ke teman. Selain mereka pun, lo harus mencari cara untuk melawan. Entah bagaimana caranya karena harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing, tapi gue percaya peluang untuk lo bertahan sampai akhir dan menang, pasti ada. Yang lo perlukan adalah ketenangan diri, melepaskan diri dari rasa takut atau sedih, mencoba untuk berpikir jernih, dan mencari cara apapun yang memungkinkan untuk dilakukan.

Mudah buat gue untuk menuliskan ini, tapi gue paham sekali bahwa apa yang gue tuliskan tidak mudah dilakukan. Untuk yang mengalami kekerasan di rumah, gue nggak tahu apalagi yang bisa gue katakan selain lo harus berjuang untuk diri sendiri dan bersuara, mencari pertolongan. Untuk yang merasa tertekan mental atau batinnya, kalaupun nggak ada yang bisa membantu lo, satu-satunya cara adalah berusaha bertahan dengan mewaraskan diri. Meminimalisir kontak dengan orang-orang yang membuat lo tertekan, mencari cara untuk membuat diri merasa bahagia atau tenang. Sulit, tapi bukan berarti lo nggak bisa.

Inget, lo lebih tangguh dari yang lo pikirkan. Lo pasti bisa.

 

3. Apapun bisa dilalui selama kita ‘bergandengan tangan’

Bergandengan di sini bukan berarti lo pegangan tangan beneran ya. Maksudnya bergandengan tangan adalah ketika kita menjadi solider dan mau berjuang bersama-sama membantu sesama yang membutuhkan. Gue paham bahwa mental banyak orang menjadi tertekan, ketakutan, stres datang karena kondisi finansial dunia, negara, dan masing-masing orang memburuk. Belum lagi banyak yang harus merasa kehilangan karena ditinggalkan orang tersayangnya. Gue paham bahwa saat ini tidak banyak yang bisa dilakukan selain berdoa, berusaha semampunya, dan diam #dirumahaja atau #jagajarak kalaupun harus berpergian keluar rumah. Tapi, selama kita, seluruh manusia, gue dan lo, bersama-sama berjuang, tidak ada yang tidak bisa.

Memang, kontribusi perorangan kalau dilihat-lihat hanya seujung kuku, tidak besar dan tidak signifikan. Tapi, kalau dilakukan oleh banyak orang dan bersama-sama, maka kontribusi perorangan yang terlihat tidak berarti menjadi berarti. Dikit-dikit kalau ditumpuk jadi gunung. Pepatah itu, walau nggak 100% benar cara gue menyampaikannya, memiliki arti yang luar biasa. Perhatiin deh sekeliling lo, atau di internet. Biasanya banyak lalu lalang di Facebook, Twitter, atau Instagram. Lo banyak lihat kan, begitu banyaknya donasi yang terbuka, memberikan kesempatan bagi banyak orang yang memang mampu, untuk berkontribusi. Sekali lagi gue sampaikan, kontribusi satu orang memang tidak signifikan dan terlihat kecil, tapi tidak perlu merasa minder, karena selama lo mau mengajak orang untuk berkontribusi, berpartisipasi, maka hal yang terlihat kecil dan tidak berarti itu dapat menjadi setumpuk gunung yang besar dan memiliki arti yang besar.

Ayo, gandengan tangan. Lakuin apa yang bisa lo lakuin. Kasih tip untuk bapak/ibu driver yang membawakan lo makanan. Beliin beras atau bahkan telor atau minyak atau Indomie untuk tetangga lo yang kondisi finansialnya jauh lebih buruk dari lo. Lakukan donasi makanan untuk orang-orang yang mau keluar rumah dan membagikannya kepada yang butuh. Lakukan donasi untuk orang-orang yang membuka kesempatan lo untuk berkontribusi memberikan APD, masker, atau apapun yang dibutuhkan oleh garda terdepan kita. Terakhir, diam #dirumahaja dan #jagajarak apabila diperlukan untuk keluar rumah. Semua ini mungkin nggak seberapa sulit dan nggak seberapa berarti bagi lo sendiri, tapi ketika kita, lo, gue, dan orang-orang di sekeliling kita melakukannya bersama-sama, maka dampaknya akan menjadi berarti.

___

Itulah 3 hal yang bisa lo petik dan pelajari dari sesi karantina kita #dirumahaja. Ayo sama-sama kita belajar untuk bersyukur atas apa yang kita miliki. Rasa syukur yang nggak cuma di mulut atau di teks IG Story atau Feeds, atau Facebook post, atau Tweet Twitter, tapi benar-benar ada di dalam hati kita. Ingat perjuangan dan kesedihan dan bahaya yang harus dihadapi banyak orang di luar sana.

Sama-sama juga kita bertahan, berjuang, dan berusaha untuk berdiri sampai akhir. Nggak harus berdiri tegak sempurna, nggak harus produktif setiap hari, nggak harus mencapai banyak hal yang luar biasa. Cukup berusaha semampunya, berusaha semaksimal mungkin, dan bertahan sampai akhir. Itu saja sudah cukup untuk memenangkan peperangan ini.

Terakhir, ayo kita gandengan tangan sama-sama. Membantu, berkontribusi, dan berdoa untuk semua makhluk hidup di muka bumi ini. Nggak ada yang nggak terdampak, nggak ada yang nggak kesulitan, nggak ada yang nggak berjuang. Semuanya berusaha, semuanya bertempur, semuanya kesulitan. Jadi, tingkatkan solidaritas, tingkatkan rasa saling menghargai, dan tingkatkan kepedulian kepada sesama. Niscaya kita semua bisa melewati semua ini.

Terima kasih untuk teman-teman yang mau membaca sampai akhir. Ambil yang baik-baiknya saja, buang yang buruk-buruknya, sebarkan ke orang lain, biar kita bisa sama-sama melangkah maju, selangkah demi selangkah.

Salam hangat,

Photo by Nathan Fertig on Unsplash

Leave a Reply